Warna jersey hijau putih itu juga sempat dipertanyakan oleh suporter. Lantaran Persid identik dengan warna kostum kebanggannya, hitam atau hitam-putih. Namun, berdasarkan sejarah Persid Jember, jersey home-nya juga kerap berganti-ganti warna.
Menanggapi hal tersebut, Manajer sekaligus Ketua Pengurus Yayasan Rezky Pratama mengatakan, jersey hijau putih yang baru dipakai pada laga persahabatan melawan UIN KHAS tersebut adalah jersey latihan. “Jersey training itu, bukan untuk pertandingan kompetisi Liga III,” terangnya.
Memakai warna hijau, kata dia, tidak ada alasan khusus. “Agar lebih fresh saja pakai warna hijau. Mungkin karena yang pegang anak muda sekarang, jadi ingin fresh. Apalagi emak-emak juga suka warna yang ngejreng,” ujarnya. Pemilihan warna hijau tersebut tidak ada filosofi atau maksud apa pun. Hanya ingin sesuatu yang baru dan segar saja saat latihan.
Sementara itu, jersey resmi untuk Liga III, kata dia, masih belum resmi dirilis juga belum cetak. Sebab, pihaknya menunggu kepastian Liga III. "Siapa tahu nanti ada regulasinya harus ada nama sponsor dari Jatim. Makanya untuk jersey sendiri menunggu kompetisi," katanya.
Walau belum rilis dan cetak, desainnya sudah disiapkan. Kata dia, untuk warnanya tidak mengubah dari warna kebanggaan sebelumnya, yaitu hitam-putih. “Namun, karena saat ini Persid telah menjadi milik pemkab, maka ada sedikit tambahan ornamen warna merah dan kuning. Sesuai dengan warna di logo Pemkab Jember,” imbuhnya.
Sementara itu, kolektor jersey Persid, Rizky Adi Nugraha, menyebut, jersey Persid itu pada tahun 2000-an awal warnanya sering berubah-ubah. “Tahun 2000 itu biru, warna kuning juga pernah dipakai tahun 2010. Setelah itu, baru memakai warna putih setelah ada peleburan gangster, yaitu sebutan suporter Persid kala itu,” jelasnya.
Sedangkan pada 2014, yaitu tahun terakhir Persid berlaga di kasta kedua Liga Indonesia, waktu masih Divisi Utama atau sekarang Liga II, warna jersey untuk home putaran pertama adalah biru-putih. “Birunya 2014 itu seperti jersey Argentina, yaitu biru muda,” terangnya.
Sementara itu, untuk jersey away adalah warna hijau. Namun, pada putaran kedua, jersey home Persid berubah menjadi putih-hitam. Sedangkan pada 2017, kata dia, jersey home Persid yang resmi didaftarkan ke PSSI adalah hitam. Namun, yang sering dipakai home-away adalah putih. “Mulai 2018 hitam terus home-nya,” terangnya.
Sebagai kolektor jersey, apa pun warnanya, Adi akan berusaha memiliki. Namun, sebagai suporter, jangan sampai warna khas Persid yang selama ini hitam-putih dibuang. “Kalau misal ada kebijakan pemerintah, karena Persid butuh dukungan pemerintah, dan memasukan warna tambahan, tidak masalah. Terpenting, dominan hitam atau putih,” pungkasnya.
Reporter : Dwi Siswanto
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Safitri