Tim yang berdiri tahun 1970 ini memiliki julukan Laskar Gerbong Maut. Tiap laga kandangnya memakai Stadion Magenda. Stadion dengan kualitas rumput yang mengenaskan. Prestasi Persebo pun paling apik berlaga di pentas kedua Liga Indonesia. Divisi Utama (DU) tahun 2013 silam. Setelah itu, lisensinya dijual ke Musi Banyuasin. Tidak lagi bisa menjadi kebanggaan masyarakat Bondowoso. Saat itu, menjadi Persebo Musi Raya. Berikutnya lisensi Persebo dijual ke Madura menjadi Madura FC, sampai saat ini.
Berikutnya muncul nama baru. Yakni Persebo Muda. Nama ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Persebo (awal). Jika Persebo kompetisi profesional, Persebo Muda masuk kompetisi amatir. Ikut Liga 3 Jatim.
Sejak didirikan 2017 hingga 2019 lalu, Persebo Muda selalu berpartisipasi dalam Liga 3 zona Jawa Timur. Tetapi, ya begitu-begitu saja. Lolos dari zona Jatim pun belum pernah.
Perhatian pemerintah kabupaten bagi tim sekelas tim amatir masih sangat dibutuhkan. Bahkan bisa dikatakan cukup vital. Sebab, tim amatir belum bisa mencari sponsor sendiri. Menggandeng investor pun apalagi. Keberadaan pemkab menjadi napas bagi mereka. Terlebih untuk urusan finansial.
“Dua tahun dan tahun-tahun sebelumnya sempat disuntik bantuan dana oleh KONI. Cuma kompetisi tahun kemarin, sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah daerah,” tutur Marsuki, Manajer Persebo Muda musim lalu.
Seakan Persebo menjadi tim anak tiri di Liga 3. Sekadar main, juga tidak ada uang saku. “Ya mau tidak mau harus tetap bertanding. Harus tetap menyelesaikan kompetisi sampai selesai,” imbuh Marsuki.
Disinggung apakah Persebo Muda berusaha mengajukan dana kepada pemkab, Marsuki mengaku, sudah berjalan ke arah sana. “Kalau pengajuan sudah semua. Cuma tidak tahu apa yang menjadi kendalanya,” lanjutnya.
Marsuki berharap, kucuran dana yang menjadi masalah klasik seharusnya ada solusi tiap tahunnya sebelum Persebo Muda berkompetisi. “Minimal untuk akomodasi dan konsumsi pemain lah. Kalau urusan gaji ya harus dimaklumi bagi pemain, karena kami kan masih amatir. Beda lagi kalau nantinya masuk tim professional, ya harus ada kontraknya,” ungkap dia.
Ke depan, Persebo Muda seperti masih suram. Marsuki menginginkan, Persebo Muda harus eksis terlebih dahulu. Walaupun finansial juga belum ada kejelasan. “Yang penting anak-anak putra daerah bisa tampil di Liga 3. Ya bagaimana kita akan berusaha cari dananya. Meskipun tiap tahunnya tidak ada target khusus, karena sebagai ajang pembinaan,” ujarnya.
Sebenarnya, meskipun belum ada niatan untuk menjadikan Persebo sebagai tim yang disegani di Jatim, minimal pemkab atau pengurusnya menjadikan Persebo sebagai ajang pembinaan pemain. Alur pemain muda sebelum pergi ke klub yang levelnya lebih tinggi daripada Persebo. Menjadikan Persebo sebagai klub penyaringan dari klub internal atau SSB yang ada di Bondowoso.
Nantinya, Persebo bisa dikatakan sebagai klub penghasil pemain muda berkualitas. Bagi pesepak bola asli Bondowoso. Sebagai batu loncatan untuk pergi ke klub yang lebih mapan tentunya. Editor : Safitri