Ketua Pengkab TI Jember Rahmat mengatakan, sejak new normal para atletnya mulai kembali berlatih. Namun, beberapa agenda latihan di dojang atau tempat latihan yang berada di area publik ditiadakan dan pindah lokasi. “Pada awal pandemi memang tidak ada latihan. Namun, kini semua mencoba beralih dengan kenormalan baru,” ucapnya.
Pria 45 tahun ini menambahkan, dalam latihan di era kenormalan baru tersebut, pihaknya juga menghindari kontak fisik antartaekwondoin. Jadi, porsi latihannya adalah fisik dan teknik saja. Karenanya, tidak ada latihan bertarung atau sparring. Rahmat mengakui, banyak fisik pemain yang menurun sejak korona. “Bahkan, ada yang mengalami penambahan berat badan,” ungkapnya.
Walau kondisi masih belum normal seutuhnya, Rahmat juga tidak ingin persiapan menuju Porprov itu kendur. Apalagi, kata dia, Jember akan jadi tuan rumah bersama di ajang olahraga terbesar se-Jawa Timur tersebut. “Walau Porprov Jatim diundur menjadi 2022, kami ingin meraih hasil maksimal,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya menggelar latihan khusus untuk selanjutnya dijadikan ajang seleksi menuju Puslatkab Taekwondo Jember. Latihan khusus dalam persiapan pelatkab tersebut setidaknya digelar dua atau tiga minggu sekali. “Nanti akan ada degradasi dan mengerucut lebih kecil lagi,” jelasnya.
Dia mengaku, hingga saat ini kendala utama TI Jember adalah mendapatkan atlet senior. Utamanya kyorugi atau kelas tarung. Sedangkan taekwondoin dengan berat under 54 hingga 58 kilogram masih banyak, dan untuk under 63 masih cukup.
Menurut Rahmat, mulai terjadi kesulitan atlet adalah masuk under 68 kilogram. Apalagi, untuk under 78 kilogram, bahkan tidak memiliki atlet, hingga over 78 kilogram. “Jadi, kelas berat kami tidak memiliki atlet,” jelasnya. Padahal, kata dia, kelas berat tersebut cukup potensial mendulang medali, mengingat kondisi beberapa daerah yang lain juga kesulitan mendapatkan taekwondo dengan berat badan yang besar tersebut.
Dia mengakui, saat memasuki usia SMA hingga kuliah, banyak atlet mulai mengendurkan latihan dan tidak lagi konsen ke olahraga. “Usia-usia puber yang rentan,” tuturnya. Padahal, batas usia Porprov itu adalah usia mahasiswa baru, yaitu maksimal 21 tahun. Editor : Safitri