Kehadiran bengkel mobil ini seakan-akan menjadi solusi masyarakat di sekitar Semboro, Umbulsari, dan Tanggul. Mereka tentu tidak perlu jauh-jauh ke pusat kota untuk spooring dan balancing kendaraan roda empat.
Kepala SMKN 8 Jember Ir Edi Setyono MPd mengatakan, jurusan otomotif di SMKN 8 Jember memiliki dua Teaching Factory (Tefa). Yaitu bengkel sepeda motor dengan program keahlian Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM), dan bengkel mobil dengan program keahlian Teknik Kendaraan Ringan (TKR).
Tefa bengkel mobil SMKN 8 Jember tersebut, lanjut dia, baru dibuka awal 2021 lalu. Tentu saja, bengkel tersebut tidak hanya melayani tune up atau servis rutin mobil pada umumnya. Tetapi, juga memiliki peralatan untuk mengecek dan memperbaiki spooring dan balancing mobil.
Dia menjelaskan, selama ini masyarakat sekitar Semboro, termasuk Tanggul dan Umbulsari, yang memiliki mobil berangkat ke pusat kota Jember untuk spooring dan balancing. “Di Semboro, termasuk Tanggul dan Umbulsari, tidak ada bengkel mobil yang bisa spooring dan balancing,” jelasnya.
Hal ini, kata dia, menjadi solusi warga agar tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk melakukan pengecekan dan perbaikan kaki-kaki mobil. Apalagi, kata dia, kaki-kaki mobil tersebut menjadi salah satu faktor keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara.
Selain itu, biayanya pun terjangkau. Untuk biaya spooring-balancing adalah Rp 175 ribu. Padahal biasanya spooring-balancing tersebut dikenakan biaya sebesar Rp 300 ribuan.
Walau berada di sekolah, Edi menegaskan bahwa teknisinya adalah guru, perwakilan siswa, dan tenaga ahli dari luar. Dia menjelaskan arti dari Tefa adalah pembelajaran yang membawa suasana industri ke sekolah, sehingga sekolah bisa menghasilkan produk berkualitas industri. Karena itu, bengkel mobil di SMKN 8 Jember tersebut memiliki standar yang sama dengan bengkel mobil profesional.
Edi menambahkan, kehadiran servis mobil di Tefa SMKN 8 Jember tersebut mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi terhadap pendidikan vokasi. Menurutnya, siswa SMK ini perlu praktik agar mendapatkan lulusan yang terampil.
“Jika tidak ada yang servis, maka praktik siswa terhadap mobil kurang bervariasi. Walau dalam praktik servis mobil warga, siswa hanya melihat ataupun sekadar membantu mengambil peralatan. Lama-kelamaan siswa akan memahami dunia kerja seutuhnya dan memahami keterampilannya,” pungkasnya.
Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Radar Digital