Radar Jember – Pelantikan 31 Pengurus Anak Cabang (PAC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember periode 2026–2031 menjadi titik awal untuk pekerjaan yang lebih besar.
Bukan sekadar memperkuat struktur organisasi di tingkat kecamatan, HKTI Jember mulai menyiapkan regenerasi petani agar anak muda tidak hanya menjadi penonton di tengah perkembangan sektor pertanian.
Ketua DPC HKTI Jember H. Ponimin Tohari melalui Wakil Ketua Bidang Agribisnis dan Pangan Dr. Julian Adam Ridjal mengatakan, kepengurusan yang terbentuk di 31 kecamatan harus segera diterjemahkan menjadi program nyata.
Baca Juga: HKTI Jember Perkuat Jaringan hingga Tingkat Desa, Kawal Akses Pupuk Petani
Salah satunya menyiapkan petani muda yang memahami pertanian dari proses produksi hingga pemasaran hasil. “Harapannya ke depan tidak hanya seremonial, tetapi harus action. Kita ingin men-support dan membuka ruang bagi regenerasi petani, terutama petani muda,” katanya.
Program yang disiapkan berupa Sekolah Lapang Petani Muda. Konsepnya tidak berhenti pada teori atau ceramah, petani muda akan belajar melalui demplot, melihat langsung praktik budi daya, kemudian dikenalkan dengan pengelolaan usaha tani hingga bagaimana mencari dan membangun pasar setelah panen.
Tiga komoditas menjadi fokus awal, yakni padi, jagung dan tembakau Na-Oogst. Padi dan jagung diarahkan untuk memperkuat ketahanan serta swasembada pangan.
Sedangkan Na-Oogst menjadi komoditas khas Jember yang memiliki pasar ekspor. Ketiganya akan menjadi proyek awal sebelum HKTI memperluas pendampingan ke komoditas lain sesuai potensi wilayah.
Julian menilai pendekatan tersebut penting agar pertanian memiliki daya tarik bagi generasi muda. Sebab, bagi anak muda, pertanyaan tentang masa depan ekonomi dari pekerjaan sebagai petani tidak bisa diabaikan.
Baca Juga: Bertemu di Final, SMAN Rambipuji Vs SMAN Balung dalam Turnamen Bahlil Mini Soccer Zona 10 Jember
Karena itu, kemampuan budi daya harus berjalan beriringan dengan pemahaman bisnis dan pasar. “Pemuda pasti berpikir realistis, menjanjikan tidak pekerjaan sebagai petani? Jadi kami tidak hanya bicara bagaimana pintar berbudi daya, tetapi juga bagaimana terkait dengan aspek pasarnya,” jelasnya.
Ketua HKTI Jawa Timur HM. Arum Sabil yang melantik 31 PAC HKTI Jember turut menekankan pentingnya regenerasi tersebut. Menurut dia, pertanian membutuhkan petani muda yang disiapkan secara serius.
Sekolah lapang dapat menjadi ruang untuk mempertemukan generasi muda dengan pengetahuan, praktik lapangan dan berbagai pihak yang berkaitan dengan rantai usaha pertanian.
Dari sisi wilayah, HKTI Jember juga akan melakukan pemetaan potensi masing-masing kecamatan. Perbedaan jenis tanah, iklim dan karakter lahan membuat pengembangan komoditas tidak bisa diseragamkan.
Padi dinilai memiliki sebaran luas, sementara jagung dan tembakau Na-Oogst akan dikembangkan pada kawasan yang sesuai. Model tersebut nantinya menjadi pilot project untuk dikembangkan lebih luas.
Upaya itu sejalan dengan dorongan Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait agar HKTI menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun pertanian. Gus Fawait menyebut Jember secara historis merupakan salah satu lumbung pangan Jawa Timur.
Bahkan, produksi padi Jember kini kembali masuk tiga besar setelah sebelumnya sempat berada di luar posisi tersebut.
“Mudah-mudahan kolaborasi Pemda dengan HKTI bisa membuat lebih baik lagi. Termasuk bagaimana kita mengakses program-program dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi,” ujar Gus Fawait.
Menurutnya, dukungan pemerintah pusat terhadap sektor pertanian dalam dua tahun terakhir mencapai lebih dari Rp300 miliar.
Namun, penguatan pertanian tidak cukup berhenti pada anggaran. Pemerintah juga membutuhkan organisasi seperti HKTI untuk menjembatani petani dengan kelompok tani, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan hingga pasar.
Dengan struktur yang kini terbentuk di 31 kecamatan, HKTI diharapkan tidak hanya hadir sebagai organisasi petani. Tetapi ikut menyiapkan generasi yang akan menjaga keberlanjutan pertanian Jember sekaligus memperkuat agenda swasembada pangan. (ika/dhi/c2/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh