Kerusakan Hati Tanpa Gejala, Dokter RS Bina Sehat Jember Jelaskan Bahaya Sirosis

Redaksi Radar Jember • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 06:17 WIB
dr Hana Nadya Sp PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember. (RSBS)
dr Hana Nadya Sp PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember. (RSBS)

Radar Jember - Sirosis hati merupakan penyakit kronis yang perlu diwaspadai karena kerusakan organ dapat berlangsung perlahan tanpa gejala berarti. Saat keluhan mulai muncul, fungsi hati sering kali telah mengalami penurunan cukup berat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember, dr Hana Nadya Sp PD, menjelaskan, sirosis terjadi ketika peradangan hati berlangsung menahun sehingga jaringan sehat secara bertahap digantikan jaringan parut atau fibrosis.

“Hati memiliki fungsi penting, mulai dari mengolah zat gizi, menyaring racun dari darah, membuat protein dan faktor pembekuan darah, hingga menyimpan energi,” jelasnya.

Baca Juga: Awas Obesitas Picu Kanker Hati Mematikan! Dokter RSBS Jember Beberkan Bahaya Perlemakan Hati

Menurut dr. Hana, kerusakan hati kronis dapat dipicu berbagai kondisi, antara lain infeksi hepatitis B dan C, perlemakan hati, konsumsi alkohol, penyakit hati autoimun, serta gangguan metabolik.

Pada tahap awal atau sirosis kompensata, penderita sering tidak merasakan gejala khas. Keluhan yang mungkin muncul antara lain mudah lelah, nafsu makan menurun, mual, perut terasa penuh, berat badan turun, gatal, hingga pembengkakan ringan pada kaki.

Kondisi menjadi lebih serius ketika memasuki fase dekompensata. Gejalanya dapat berupa perut membesar akibat penumpukan cairan atau asites, kulit dan mata menguning, mudah memar atau mengalami perdarahan, serta gangguan kesadaran akibat ensefalopati hepatik.

Pecahnya varises esofagus juga menjadi komplikasi berbahaya yang dapat menyebabkan muntah darah dan membutuhkan penanganan medis segera.

Diagnosis sirosis dilakukan melalui pemeriksaan klinis, laboratorium, dan pencitraan. Pemeriksaan darah dapat mencakup fungsi hati, seperti SGOT, SGPT, bilirubin, albumin, serta pemeriksaan pembekuan darah dan hepatitis B maupun C.

Baca Juga: Sering Gagal Donor Darah? Ternyata Ini Batas Kadar Hb yang Wajib Kamu Penuhi Menurut Ahli Medis RSBS Jember!

USG hati dapat membantu menilai bentuk, ukuran, dan tekstur hati. Sementara itu, elastografi hati atau FibroScan digunakan untuk menilai tingkat kekakuan hati. CT-scan atau MRI dapat diperlukan untuk mendeteksi komplikasi, termasuk kanker hati.

Pada kondisi tertentu, endoskopi dilakukan untuk melihat adanya varises saluran cerna. “Biopsi hati saat ini tidak selalu diperlukan dan biasanya dilakukan jika diagnosis masih belum jelas,” terang dr. Hana.

Meski jaringan hati yang telah mengalami sirosis tidak dapat kembali sepenuhnya seperti semula, perkembangan penyakit dapat diperlambat dengan penanganan yang tepat.

Terapi diarahkan pada penyebab dan komplikasi. Pada gagal hati berat, transplantasi hati dapat menjadi pilihan.

Skrining penting dilakukan, terutama bagi penderita hepatitis kronis, perlemakan hati dengan obesitas atau diabetes, peminum alkohol jangka panjang, penderita penyakit hati autoimun atau gangguan metabolik, serta mereka yang memiliki riwayat keluarga sirosis atau kanker hati.

“Sirosis hati merupakan penyakit serius, tetapi dapat dicegah dan dikendalikan bila diketahui lebih dini,” pungkas dr. Hana.

Baca Juga: Suhu Dingin Terjang Jember, IDI Imbau Waspadai Lonjakan Kasus Batuk dan Pilek

Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi hepatitis B, menghindari alkohol dan rokok, menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, serta melakukan pemeriksaan hati secara berkala bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

Untuk konsultasi lebih lanjut, masyarakat dapat mengunjungi RS Bina Sehat Jember di Jl. Jayanegara 7, Kaliwates, Jember, atau menghubungi bagian pendaftaran melalui WhatsApp 0857 8526 1584. (kr/dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
sirosis hati Kesehatan RSBS