Wisata Tangguh Bencana : Cara Desa Sumberwuluh Berdamai dengan Gunung Semeru

Linda Harsanti • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:50 WIB
Peningkatan Resiliensi Wisata Semeru: Pendampingan Tata Kelola dan Co-Design Siteplan Desa Wisata Tangguh Bencana Berbasis Partisipatif di Desa Sumberwuluh, Lumajang
Peningkatan Resiliensi Wisata Semeru: Pendampingan Tata Kelola dan Co-Design Siteplan Desa Wisata Tangguh Bencana Berbasis Partisipatif di Desa Sumberwuluh, Lumajang

 

RADAR JEMBER, Lumajang – Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, tengah menjalani proses penyusunan Co – Design Site Plan atau rencana tapak desa wisata tangguh bencana sebagai respon atas potensi wisata yang perlu dikembangkan ditengah wilayah yang rawan erupsi Gunung Semeru.  Pada tahun 2026, kegiatan program Dosen Mengabdi berhasil diinisiasi oleh dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Jember, di ketuai oleh Ir. Rindang Alfiah S.T., M.T., dengan judul pengabdian “Peningkatan Resiliensi Wisata Semeru: Pendampingan Tata Kelola dan Co-Design Siteplan Desa Wisata Tangguh Bencana Berbasis Partisipatif di Desa Sumberwuluh, Lumajang”. Kegiatan ini merupakan program hibah pengabdian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M)  Universitas Jember yang diikuti oleh anggota dosen lainnya, yaitu Ir. Ratih Novi Listyawati S.T., M.T., Ir. Syavitri Sukma Utami Rambe, S.T., M.URP., dan Ir. Dano Quinta Revana S.T., M.T., serta melibatkan 10 Mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dalam proses pengabdian.  

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama dengan Pemerintah Desa Sumberwuluh yang dipimpin oleh Bapak Sulhan dan didampingi oleh Sekretaris Desa Bapak Samsul Arifin selama berlangsungnya kegiatan, mulai dari tahap observasi hingga pemaparan dari hasil perencanaan. Selain itu, kegiatan ini juga didampingi oleh pihak pengelola wisata Kalipinusan Poncosumo sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang yang memiliki banyak potensi didalamnya. 

Kepala Desa Sumberwuluh, Sulhan menyatakan rasa senangnya atas terselenggaranya kegiatan ini dari Universitas Jember. Menurutnya, kegiatan ini sangat memiliki nilai positif dalam memajukan wisata Kalipinusan Poncosumo melalui Co-Design Site Plan yang menarik. Dalam sesi penyampaian hasil rencana yang dihadiri oleh 10 perwakilan kelembagaan masyarakat, seluruh peserta juga menyatakan dukungannya terhadap kegiatan ini karena dinilai akan berdampak positif pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat. 

Daerah Rawan – Namun Berpotensi 

Desa Sumberwuluh terletak di sebelah tenggara Gunung Semeru yang memiliki potensi wisata dengan sebagian besar permukimannya, terutama di sekitar Dusun Kajarkuning, Curah Kobokan, dan Kejayan berada langsung di zona Kawasan Rawan Bencana (KRB) III – zona dengan potensi terlanda awan panas, aliran lava, dan guguran batu pijar secara langsung. Sehingga, kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagian tengah desa merupakan area dengan tingkat kerawanan tinggi. Sepanjang tahun, desa ini kerap mengalami kerusakan permukiman, gangguan akibat hujan abu vulkanik, hingga pengungsian warga termasuk saat aktivitas vulkanik meningkat pada akhir 2025 yang berdampak ke wilayah Kecamatan Candipuro.  

Di sisi lain, Desa Sumberwuluh menyimpan banyak daya tarik wisata alam yang cukup besar. Beberapa destinasi yang sudah berkembang antara lain Gunung Wayang (spot paralayang berstandar FASI, camping ground, dan spot foto), Museum Kenangan Semeru sebagai wisata edukasi kebencanaan, dan wisata Kalipinusan Poncosumo yang menawarkan suasana hutan pinus dan sungai untuk berkemah serta berkegiatan luar ruang. Desa ini juga memiliki banyak tradisi budaya seperti Festival Rujak Otek yang setiap tahunnya menyajikan sekitar 1.500 pincuk rujak otek hasil UMKM lokal. 

Kelembagaan Desa Cukup Beragam 

Dalam mendukung pengembangan wisata sekaligus mitigasi bencana terdapat sejumlah kelembagaan formal, diantaranya Pemerintah Desa, POKDARWIS, DESTANA, BUMDes, PKK, Karang Taruna, SKD, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), hingga kelembagaan non-formal seperti kelompok tani, kelompok ternak, pengajian, dan remaja masjid. Kelompok masyarakat ini berpotensi untuk bisa saling bekerjasama dalam pengelolaan wisata melalui berbagai kegiatan yang membutuhkan partisipasi masyarakat yang baik. 

 

Co-Design Kalipinusan Poncosumo : Wisata Sekaligus Jalur Evakuasi
Co-Design Kalipinusan Poncosumo : Wisata Sekaligus Jalur Evakuasi

Kawasan wisata Kalipinusan Poncosumo memiliki luas lahan sekitar 2,64 Ha yang berada di zona kerawanan rendah, meski sebagian akses masuk berdekatan dengan zona kerawasan sedang yang mengikuti jalur aliran lahar dari Gunung Semeru.  

Rencana tapak yang disusun membagi kawasan ke dalam beberapa zona : zona publik, zona semi-publik, zona semi-privat, zona servis, dan zona konservasi berupa hutan pinus serta kebun karet yang tetap dipertahankan. Batasan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) ditetapkan maksimal 10% agar pembangunan tidak mengorbankan tutupan vegetasi alami. 

Terdapat penekanan utama terkait dengan integrasi jalur evakuasi ke dalam sistem sirkulasi wisata. Jalur evakuasi di kawasan Kalipinusan dirancang mengikuti akses jalan yang sudah ada dengan mengarah ke titik kumpul di area parkir, dan selanjutnya terhubung dengan jalur evakuasi tingkat desa menuju Lapangan Sumberwuluh Tengah sebagai titik kumpul utama. 

 


Pendekatan Partisipatif menjadi Kunci Utama
Pendekatan Partisipatif menjadi Kunci Utama

Penyusunan rencana tapak ini dilakukan melalui pendekatan co-design yang melibatkan pemerintah Desa, POKDARWIS, DESTANA, serta perwakilan masyarakat sejak tahap identifikasi masalah hingga perumusan desain. Proses ini mencakup pemaparan hasil analisis spasial dan risiko bencana, diskusi kebutuhan ruang, hingga forum untuk menampung masukan masyarakat. 

Dengan pendekatan ini, pengembangan wisata di Desa Sumberwuluh diharapkan tidak lagi berjalan terpisah dari upaya mitigasi bencana, melainkan terintegrasi sejak tahap perencanaan sehingga kawasan wisata dapat tetap memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan risiko yang datang dari aktivitas Gunung Semeru yang masih aktif hingga saat ini.
 
Editor : Linda Harsanti
Universitas Jember Bondowoso