Radar Jember - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember memperkenalkan teknologi tepat guna berupa grease trap atau alat pemisah lemak kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bidang pangan. Inovasi tersebut diterapkan sebagai upaya membantu pengelolaan limbah produksi sekaligus meningkatkan kebersihan dan sanitasi lingkungan usaha.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr. Ir. Latifa Mirzatika Al-Rosyid, S.T., M.T.; Ir. Nely Ana Mufarida, S.T., M.T.; Dr. Feti Fatimah, S.E., M.M.; Mochammad Waris Ramadhani; Bela Pitaloka; dan Muhammad Raihandy Alfiansyah. Program tersebut dilaksanakan melalui pendampingan kepada UMKM Dapur Shincan di Desa Kencong, Kabupaten Jember.
Kegiatan ini didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Salah satu fokus kegiatan adalah penerapan teknologi tepat guna untuk membantu mitra dalam mengelola limbah hasil produksi.
Penerapan grease trap menjadi salah satu fokus pendampingan karena aktivitas produksi UMKM pangan menghasilkan limbah berupa air bekas pencucian bahan baku, minyak, lemak, serta sisa bahan organik. Sebelum adanya pendampingan, sebagian limbah produksi, termasuk air bekas pencucian ayam dan sisa minyak, masih dialirkan langsung ke saluran pembuangan.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penyumbatan saluran, menimbulkan bau tidak sedap, serta meningkatkan risiko pencemaran lingkungan apabila berlangsung secara terus-menerus.
Melalui pendampingan yang dilakukan tim pengabdian, pelaku UMKM diberikan edukasi mengenai pentingnya pengelolaan limbah serta praktik penggunaan grease trap. Alat tersebut bekerja dengan memisahkan minyak, lemak, dan material padat dari air limbah sebelum dialirkan menuju saluran pembuangan.
Prinsip kerja teknologi ini cukup sederhana. Lemak dan minyak yang memiliki massa jenis lebih rendah akan mengapung di permukaan, sedangkan material padat akan mengendap di dasar bak. Air yang telah melalui proses pemisahan kemudian dapat dialirkan keluar dengan kandungan lemak dan padatan yang lebih rendah.
Selain penerapan grease trap, tim pengabdian juga memberikan pendampingan terkait pemilahan limbah produksi. Minyak jelantah diarahkan untuk dikumpulkan dalam wadah khusus dan tidak dibuang langsung ke saluran air. Sementara itu, limbah padat seperti sisa bumbu dan bulu ayam juga dikelola secara terpisah agar area produksi tetap bersih dan higienis.
Penerapan teknologi sederhana tersebut memberikan perubahan terhadap pengelolaan lingkungan produksi UMKM Dapur Shincan. Pelaku usaha mulai memahami bahwa pengelolaan limbah merupakan bagian penting dalam menjaga kebersihan tempat produksi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.
Tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, pengelolaan limbah juga berpotensi memberikan nilai ekonomi. Minyak jelantah yang dikumpulkan dapat disalurkan kepada pihak yang melakukan pengolahan lebih lanjut, termasuk untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel maupun produk lainnya.
Tim pengabdian Unmuh Jember menilai bahwa penerapan teknologi tepat guna tidak selalu membutuhkan peralatan yang mahal dan kompleks. Teknologi sederhana seperti grease trap dapat menjadi salah satu solusi yang mudah diterapkan oleh UMKM pangan untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan.
Ke depan, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diterapkan pada lebih banyak UMKM pangan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai penting untuk mendorong pengelolaan limbah yang lebih baik dan berkelanjutan.
Melalui program pendampingan ini, UMKM tidak hanya didorong untuk meningkatkan kualitas produk dan pemasaran, tetapi juga membangun sistem produksi yang lebih bersih, higienis, dan ramah lingkungan. Kehadiran tim pengabdian Unmuh Jember menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi teknologi yang aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Editor : Alvioniza