RADARJEMBER – Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi komoditas kopi cukup besar. Aktivitas pengolahan kopi, terutama saat musim panen, menghasilkan limbah kulit kopi dalam jumlah melimpah. Namun, pemanfaatan hasil samping kulit kopi masih terbatas dan sebagian hanya dijual dengan harga relatif rendah.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian Universitas Jember berhasil mengubah limbah kulit kopi menjadi produk bernilai tambah ekonomi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul “Optimalisasi Limbah Kulit Kopi menjadi Produk Pangan dan Nonpangan sebagai Upaya Pemberdayaan Kelompok Tani di Desa Karangpring”. Kegiatan tersebut hadir untuk mendorong masyarakat melihat kulit kopi bukan sekadar limbah, melainkan sebagai sumber daya lokal yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Kulit kopi selama ini lebih banyak dipandang sebagai hasil samping yang memiliki nilai jual rendah atau limbah yang langsung dibuang begitu saja. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, bahan tersebut masih dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat,” ujar tim pelaksana kegiatan.
Ketersediaan kulit kopi yang melimpah serta kandungan senyawa bioaktif di dalamnya membuka peluang baru untuk menghasilkan produk yang lebih bermanfaat. Selain berpotensi menjadi permasalahan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik, kulit kopi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku diversifikasi produk.
Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini tidak hanya diarahkan pada upaya mengurangi limbah, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil samping kopi secara mandiri. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan potensi lokal sekaligus mendukung pengembangan aktivitas ekonomi berbasis komoditas kopi di Desa Karangpring.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian Universitas Jember mengembangkan dua produk berbasis kulit kopi, yaitu teh cascara sebagai produk pangan dan sabun berbasis infusa kulit kopi sebagai produk nonpangan. Teh cascara dikembangkan dengan mengolah kulit kopi kering menjadi minuman yang dipadukan dengan bahan tambahan untuk memperkaya cita rasa dan aroma, sedangkan sabun memanfaatkan infusa kulit kopi sebagai salah satu bahan dalam formulasinya. Pengembangan kedua produk tersebut menjadi langkah awal dalam mendorong diversifikasi hasil samping kopi sekaligus memperkenalkan alternatif produk yang dapat dikembangkan dengan bahan baku yang tersedia di lingkungan masyarakat.
“Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada pembuatan produk, tetapi juga memberikan keterampilan baru yang dapat diterapkan masyarakat Desa Karangpring secara mandiri,” tambah tim pelaksana.
Mengubah Kulit Kopi Menjadi Produk Bernilai Tambah Ekonomi
Rangkaian kegiatan pengabdian diawali dengan observasi kondisi mitra dan identifikasi potensi limbah kulit kopi di Desa Karangpring. Selanjutnya, dilakukan uji coba dan formulasi produk untuk memperoleh hasil pengolahan yang paling sesuai dengan kondisi bahan baku dan kemampuan masyarakat.
Dalam kegiatan ini, kulit kopi kemudian dikembangkan menjadi dua produk, yaitu teh cascara sebagai produk pangan dan sabun berbasis infusa kulit kopi sebagai produk nonpangan. Teh cascara dibuat melalui tahap pengeringan kulit kopi yang dikombinasikan dengan bahan tambahan seperti jahe dan lemon kering untuk menghasilkan minuman teh dengan cita rasa dan aroma yang lebih menarik. Sementara itu, sabun cair dibuat dengan memanfaatkan infusa kulit kopi yang dipadukan dengan minyak sawit, minyak kelapa, dan bahan pendukung lainnya hingga diperoleh produk sabun yang siap digunakan.
Setelah formulasi produk diperoleh, kegiatan dilanjutkan melalui sosialisasi kepada masyarakat Desa Karangpring yang dilaksanakan pada hari Senin, 29 Juni 2026 dan diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari petani kopi, ibu rumah tangga, dan pekerja di mitra usaha kopi Desa Karangpring. Kegiatan dilaksanakan di rumah mitra dengan pendampingan langsung dari tim pengabdian.
Materi yang disampaikan meliputi potensi kulit kopi sebagai bahan baku produk bernilai tambah, permasalahan lingkungan akibat pengelolaan limbah kulit kopi yang belum optimal, manfaat dan kandungan kulit kopi, pembuatan teh cascara dan sabun, serta perhitungan harga jual. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi disajikan video tutorial pembuatan kedua produk.
Respons Positif dan Peluang Pengembangan
Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner yang mencakup pengetahuan masyarakat mengenai potensi kulit kopi, pemahaman proses pembuatan produk, persepsi terhadap nilai jual, minat mengolah limbah, serta kemudahan dalam menerima materi.
Respons menunjukkan bahwa peserta memahami potensi kulit kopi sebagai bahan baku produk yang bermanfaat dan memiliki peluang ekonomi. Peserta juga menunjukkan minat untuk mencoba mengolah limbah kulit kopi secara mandiri setelah mengikuti kegiatan. Hal ini menjadi indikator awal adanya perubahan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pemanfaatan hasil samping kopi.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian Universitas Jember akan terus melakukan pendampingan dalam penyempurnaan formulasi dan proses produksi, peningkatan mutu produk, pengembangan kemasan, serta penguatan strategi pemasaran teh cascara dan sabun berbasis infusa kulit kopi. Pendampingan ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi masyarakat Desa Karangpring untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil samping komoditas kopi.
Melalui kegiatan ini, tim pengabdian Universitas Jember menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kulit kopi tidak hanya dapat menghasilkan produk baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan inovasi pengolahan, ekonomi sirkular, dan pengembangan potensi lokal. Kulit kopi yang sebelumnya dipandang sebagai hasil samping dengan nilai jual rendah, kini memiliki peluang untuk diolah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat Desa Karangpring.
Editor : Alvioniza