RADARJEMBER – Buku anak bergambar Naya dan Talkernya karya Dewi Mareta mengangkat kisah seorang anak autistik nonverbal yang menggunakan Talker sebagai alat bantu komunikasi. Buku yang diterbitkan IWEC Literacy tersebut menjadi media untuk mengenalkan cara berkomunikasi anak berkebutuhan khusus kepada masyarakat.
Dalam kegiatan bedah buku, penulis Naya dan Talkernya Dewi Mareta menceritakan perjalanan putrinya dalam menemukan cara berkomunikasi.
Saat ini, Naya yang telah berusia sekitar 9,5 tahun masih belum dapat berkomunikasi secara verbal seperti anak-anak pada umumnya. Karena itu, keluarga mengubah target utama pendampingan Naya.
“Tujuan utamanya bukan bicara lagi, tapi berkomunikasi,” kata Dewi.
Naya menggunakan aplikasi Talker untuk menyampaikan berbagai hal. Mulai dari keinginan hingga perasaan, seperti ketika sedang bosan atau sedih.
Penggunaan Talker dilakukan dengan pendampingan dari terapis. Dalam prosesnya, Naya tetap menjalani metode ABA (Applied Behavior Analysis) sebagai terapi perilaku, sementara Talker digunakan sebagai alat bantu komunikasi.
Dewi berharap kisah Naya dapat mendorong orang tua untuk melihat kemampuan anak dari berbagai sisi. Menurutnya, ketika satu metode belum memberikan perkembangan yang baik, orang tua tidak perlu berhenti mencoba.
“Kalau dengan metode A tidak memberikan progres yang baik, tidak apa-apa kita ganti dengan metode B. Kita coba metode C, D,” ungkapnya.
Sementara itu Co- Writer Maylia E. Sutarto mengatakan, buku yang mengangkat cerita anak autistik masih tergolong minim di Indonesia. Kondisi itu menjadi salah satu alasan diterbitkannya Naya dan Talkernya.
Selain itu, kisah Naya dinilai memiliki keunikan karena mampu menemukan alternatif komunikasi melalui Talker. Penggunaan alat tersebut menjadi salah satu cara agar anak dapat menyampaikan keinginan dan perasaannya tanpa harus selalu mengandalkan kemampuan berbicara.
“Bagaimana caranya kita mengusahakan anak itu bukan hanya bicara saja, tapi berkomunikasi lebih dulu,” ujar Maylia.
Menurut dia, kemampuan berkomunikasi penting agar anak dapat menyampaikan kebutuhan dan perasaannya. Dengan demikian, orang-orang di sekitarnya juga dapat lebih mudah memahami kondisi anak.
Melalui buku tersebut, Maylia berharap masyarakat semakin memahami bahwa setiap anak memiliki cara komunikasi yang berbeda. Lingkungan yang aman dan nyaman juga diperlukan agar anak berkebutuhan khusus dapat berinteraksi tanpa mengalami bullying maupun kekerasan verbal.
Buku Naya dan Talkernya pun diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif. Sebab, komunikasi tidak selalu harus melalui kata-kata, tetapi yang terpenting adalah bagaimana pesan dan kebutuhan anak dapat tersampaikan dan dipahami.
Editor : Alvioniza