Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Guru Ngaji di Jember yang Terima Bantuan Bola Mata Palsu di Baksos ke-15 RSBS, Terkena Peluru Nyasar di Usia 11 Tahun

Imron Hidayatullahh • Selasa, 14 Juli 2026 | 07:17 WIB
RSBS
AIR MATA BAHAGIA: Owner RSBS Prof dr Faida berbincang dengan Halimatus, guru ngaji yang mendapatkan bantuan bola mata palsu.
RSBS AIR MATA BAHAGIA: Owner RSBS Prof dr Faida berbincang dengan Halimatus, guru ngaji yang mendapatkan bantuan bola mata palsu. (RSBS)

Radar Jember - Senyum haru tersungging di bibir Halimatus Sakdiyah. Matanya tampak berkaca-kaca saat ia menatap cermin, melihat perubahan yang sudah lama ia impikan.

Setelah bertahun-tahun menutupi sisi wajahnya, kini bantuan bola mata palsu dari Bakti Sosial Mata ke-15 RS Bina Sehat Jember (2–4 Juli 2026) seolah mengembalikan potongan kepercayaan diri yang sempat hilang.

Bagi Halimatus, perjalanan hidupnya adalah serangkaian ujian yang tak mudah. Musibah itu datang saat ia masih berusia 11 tahun. Sebuah peluru nyasar dari senapan angin mengenai matanya secara tidak sengaja. Insiden nahas tersebut tak hanya merenggut penglihatannya, tetapi juga memaksanya menjalani prosedur pengangkatan bola mata.

Baca Juga: Tembus Puluhan Ribu Pendaftar, RSBS Jember Bagikan Bola Mata Palsu hingga Kacamata Gratis Selama Liburan Ini

Namun, luka fisik tak seberapa dibandingkan luka batin yang ia terima kemudian. Saat kembali ke bangku sekolah, Halimatus justru harus berhadapan dengan tembok tebal bernama perundungan.

Ia kerap dikucilkan oleh teman-temannya. Rasa percaya dirinya runtuh seketika, hingga ia memilih menarik diri dan berhenti sekolah saat masih duduk di jenjang SMP. "Sempat merasa dunia seolah berhenti," tutur Halimatus lirih.

Namun, ia menolak untuk terus terpuruk. Halimatus memutuskan untuk menata kembali kepingan hidupnya di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Jenggawah.

Di sana, di antara lantunan ayat-ayat suci, ia menemukan ketenangan dan keberanian. Pesantren menjadi tempatnya memulihkan diri, sekaligus membekali diri dengan ilmu agama yang kini ia tularkan kepada orang lain.

Kini, rumahnya di Jenggawah menjadi tempat yang hangat bagi anak-anak sekitar untuk belajar mengaji. Dengan sabar, Halimatus membimbing mereka membaca Alquran. Ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah titik akhir, melainkan awal dari pengabdian yang lebih bermakna.

Baca Juga: RSBS Jember Perkuat Layanan MCU untuk CPMI, Sehat Sebelum Berangkat

Owner Bina Sehat Group, Prof dr Hj Faida MMR CHRA, yang hadir dalam baksos tersebut, mengaku tersentuh dengan kegigihan Halimatus. Baginya, kisah perempuan ini adalah alarm bagi masyarakat untuk lebih peduli pada inklusivitas.

"Jangan pernah merundung teman. Satu ucapan atau sikap merendahkan bisa berdampak besar bagi masa depan seseorang. Jangan mengucilkan mereka yang punya keterbatasan fisik, karena yang mereka butuhkan adalah dukungan, bukan penolakan," tegas Faida.

Menurut Prof. Faida, pendidikan karakter memang harus dimulai dari lingkup paling dasar, yaitukeluarga, sekolah, dan masyarakat.

Baginya, pemberian bola mata palsu dalam baksos kali ini bukan sekadar tindakan medis, melainkan upaya mengembalikan hak setiap orang untuk percaya diri saat berinteraksi dengan dunia.

"Kami ingin para penerima bantuan ini bisa kembali berkarya dan menjalani kehidupan dengan kepala tegak," pungkasnya.

Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai program Baksos Mata di RS Bina Sehat Jember, dapat menghubungi drg. Diyah Krisnawati di nomor 0815 5987 1436. (kr/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
RS Bina Sehat Jember RS Bina Sehat RSBS