Radar Jember - Menulis bukan sekadar hobi merangkai kata bagi Wilda Zahwa Mahira, melainkan medium untuk menyuarakan ketimpangan sosial.
Keberaniannya menguliti minimnya perlindungan bagi tenaga kerja sukses mengantarkannya memborong dua penghargaan literasi bergengsi se-Nusantara.
Balutan almamater merah marun, piala emas menjulang digenggam erat kedua tangannya. Di balik perawakan santri nan anggun itu, Wilda Zahwa Mahira menyimpan ketajaman nalar yang baru saja sukses menggebrak panggung literasi nasional.
Siswi SMA Nuris Jember ini baru saja menorehkan prestasi gemilang. Dalam ajang bergengsi Wise and Wide 2026 Lomba Essay Nasional Batch 2 garapan Avisent Indonesia, Wilda sukses membawa pulang predikat Juara 2 untuk Subtema Isu Sosial, Anak, dan Perempuan.
Lebih membanggakan lagi, dewan juri mendaulatnya sebagai Penulis Terbaik alias Best Writer, menyisihkan persaingan ketat dari para peserta di seluruh penjuru Nusantara. Pilihan tema esai yang diangkat gadis ini terbilang berani dan cukup berat untuk ukuran pelajar menengah atas.
Memanfaatkan ketertarikannya pada mata pelajaran sosiologi, Wilda nekat membedah isu pemutusan hubungan kerja (PHK) di usia produktif.
Ia secara khusus menyoroti sisi kelam dunia ketenagakerjaan, yakni minimnya jaring pengaman dan perlindungan bagi para pekerja yang mendadak kehilangan sumber penghidupan.
"Awalnya memang sekadar tertarik mengamati isu-isu sosial yang terjadi di sekitar kita. Lewat tulisan itu, saya ingin memberi pandangan soal kurangnya perlindungan bagi tenaga kerja yang ter-PHK," cerita Wilda tentang karya esainya.
Baca Juga: Sabet Juara Nasional di Umsida, Dua Siswa SMA Nuris Jember Buktikan Jago Cas-Cis-Cus Bahasa Inggris!
Tentu saja, gagasan tajam itu tak lahir dalam semalam. Butuh waktu sekitar satu setengah bulan baginya untuk meramu ide, mengumpulkan bahan, hingga merajut kalimat demi kalimat menjadi kesatuan naskah yang utuh. Perjalanannya menyusun esai tersebut juga tak selalu mulus.
Sempat terselip rasa tidak percaya diri karena ia merasa masih minim pengalaman dan wawasan. Bahkan, kebuntuan ide sesekali menghampirinya.
Di saat-saat krisis seperti itulah, lingkungan pesantren mendukungnya. Terkadang ide muncul dari lingkungan pondok. Bahkan, dapur kreatif Wilda juga berada di kasur asrama pesantren.
Tinggal di lingkungan asrama yang padat kegiatan menuntutnya harus cerdik membagi waktu. "Untuk tugas sekolah pasti diselesaikan terlebih dahulu dan memastikan ke guru agar tidak tertinggal materi. Selebihnya baru fokus ke lomba," ungkap remaja yang hobi membaca ini.
Sunyinya malam kerap menjadi teman setianya dalam mengeksekusi ide-ide yang berseliweran setelah rutinitas pesantren usai.
Begitu pengumuman pemenang dirilis, orang tua, sang tentor, dan sekolah menjadi pihak pertama yang ia kabari.
Bagi Wilda, trofi dan gelar Best Writer ini bukan sekadar pajangan di lemari, melainkan sebuah pembuktian diri.
Penghargaan tersebut menjadi suntikan rasa percaya diri ekstra yang semakin meyakinkan langkahnya untuk menekuni dunia kepenulisan.
Kendati sudah mengantongi titel nasional, Wilda enggan keburu berpuas diri. Saat disinggung soal impian menerbitkan buku secara profesional, ia merendah dan mengaku belum berpikir sejauh itu.
Fokus terdekatnya saat ini adalah menaklukkan tantangan yang lebih besar di depan mata. Ia sudah membidik ajang adu gagasan bergengsi lainnya, yakni Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), untuk kembali mengasah ketajaman penanya.
Di balik penampilannya yang bersahaja, Wilda memiliki visi yang melampaui usianya. Di penghujung ceritanya, ia menitipkan satu pesan yang sederhana namun krusial bagi generasi muda Indonesia.
"Tingkatkan literasi. Karena itu sangat penting untuk membuka jalan menuju masa depan." pungkasnya. (dhi/c2/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh