Kata-kata, lakon, bidikan kamera, hingga denting gamelan menjadi jalan para siswa SMA Nuris Jember menembus podium Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten.
M. ADHI SURYA - Antirogo, Radar Jember
“Kita tak pernah benar-benar bersandar pada selajur dahar yang sama,” demikian bait pembuka puisi Gradasi karya Fatiha Priska Paramita. Dari kalimat itulah, siswi kelas XI MIPA 2 SMA Nuris Jember tersebut mengawali kisah tentang keberagaman yang tumbuh di Jember, lalu menjahitnya menjadi sebuah harmoni dalam untaian kata.
Tak disangka, diksi-diksi indah yang ditulisnya itu mengantarkan Priska menjadi juara pertama cabang cipta puisi pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten.
Ajang yang digelar Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) tersebut juga menjadi panggung bagi sejumlah siswa lain untuk menunjukkan bakatnya.
Dalam Gradasi, Priska menempatkan keberagaman budaya sebagai benang merah. Perbedaan yang ada tak ia pandang sebagai jurang pemisah, melainkan seperti gradasi warna yang saling menyempurnakan. Dari sanalah judul puisinya berasal.
“Saya ingin menunjukkan bahwa budaya-budaya yang berbeda itu bisa menjadi satu kesatuan yang indah,” ujarnya
Prestasi Siswa SMA Nuris Jember di FLS3N tak hanya datang dari cabang cipta puisi. Nadina Salsabila berhasil meraih juara tiga monolog. Miftahur Rohman membawa pulang juara harapan tiga fotografi. Sedangkan cabang musik tradisional menghadirkan kebanggaan lewat raihan juara tiga yang diraih M. Hammad Muqoffa bersama rekan-rekannya.
Hammad, siswa kelas X Kitab Tahfidz, tampil membawakan Tembang Tasamuh, lagu ciptaan tentor mereka. Ia mendapat peran ganda, yakni sebagai vokalis sekaligus penabuh gamelan yang mengiringi penampilan tim.
Menariknya, pengalaman tersebut menjadi yang pertama bagi remaja yang gemar menyaksikan film-film karya Joko Anwar itu.
Sebelum mengikuti FLS3N, dirinya belum pernah terjun dalam perlombaan musik tradisional, bahkan baru belajar memainkan gamelan.
“Saya sebenarnya baru belajar menabuh gamelan, jadi semuanya masih baru bagi saya,” katanya.
Persiapan yang dimiliki pun tidak panjang. Hanya sekitar sepekan, Hammad dan rekan-rekannya harus mematangkan aransemen sekaligus membangun kekompakan. Namun, keseriusan saat latihan menjadi modal penting hingga mereka mampu berdiri di jajaran pemenang. “Latihannya memang singkat, tapi kami berusaha serius dan menikmati prosesnya,” imbuhnya.
Ia berharap, potensi yang baru saja dirajutnya bisa terus menjadi modal untuk melestarikan kebudayaan dan membanggakan nama sekolah. “Karena saya masih kelas X, masih ada waktu untuk terus berkarya dan memberikan terbaik untuk sekolah, pesantren dan orang tua,” pungkasnya. (ika/dwi)
Top of Form
Bottom of Form
Editor : M. Ainul Budi