Radar Jember – Isu lansia tak lagi sekadar urusan keluarga. Bertambahnya jumlah penduduk usia lanjut membuat berbagai pihak mulai memikirkan langkah antisipasi, termasuk kalangan perguruan tinggi.
Kondisi itu mengemuka dalam Public Lecture bertema Membincang Lansia yang digelar UIN KHAS Jember, Senin (8/6).
Kegiatan yang didesain dengan podcast tersebut dipandu langsung oleh Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof Khusna Amal, bersama narasumber aktivis perempuan sekaligus pendiri Komunitas Belajar Tanoker Ledokombo, Farha Ciciek.
Baca Juga: Ribuan Peserta Ikuti UM-PTKIN di UIN KHAS Jember, Perebutkan 1.761 Kursi Mahasiswa Baru
Mereka membahas tantangan yang dihadapi masyarakat ketika jumlah lansia terus meningkat.
Prof Khusna Amal mengatakan, kampus tidak boleh hanya menjadi penonton saat persoalan lansia semakin kompleks.
Menurutnya, kelompok usia lanjut merupakan bagian dari masyarakat yang membutuhkan perhatian dan kebijakan yang lebih terarah.
"Kampus harus ikut berpikir, peduli, dan melakukan aksi nyata. Persoalan lansia bukan hanya urusan keluarga atau pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama," ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen, UIN KHAS tengah menyiapkan pendirian pusat studi lansia.
Lembaga tersebut akan menjadi wadah untuk melakukan kajian ilmiah sekaligus merumuskan berbagai rekomendasi dan program yang berkaitan dengan pemberdayaan kelompok usia lanjut.
Tak hanya itu, isu lansia juga akan diintegrasikan ke dalam kegiatan tridharma perguruan tinggi.
Mulai dari penelitian dosen, materi pembelajaran, hingga program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Mahasiswa nantinya dapat memilih tema pengabdian yang berkaitan dengan pendampingan maupun pemberdayaan lansia di masyarakat.
Menurut Khusna Amal, langkah tersebut penting mengingat Indonesia telah memasuki fase penuaan penduduk.
Karena itu, berbagai sektor harus mulai menyiapkan diri agar keberadaan lansia tidak dipandang sebagai beban, melainkan bagian dari sumber daya sosial yang tetap memiliki kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Pandangan serupa disampaikan Farha Ciciek. Menurutnya, perubahan pola keluarga dan kondisi ekonomi membuat banyak lansia berada dalam posisi rentan.
Tidak sedikit yang masih harus mengasuh cucu ketika anak-anak mereka bekerja, sementara akses terhadap kesejahteraan dan perlindungan sosial masih terbatas.
Ciciek menilai pendekatan terhadap lansia perlu bergeser dari sekadar bantuan sosial menuju pemberdayaan.
Lansia, kata dia, memiliki pengalaman, pengetahuan, dan modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan masyarakat.
Karena itu, langkah UIN KHAS membangun kampus yang responsif terhadap isu lansia dinilai sebagai terobosan yang relevan dengan kondisi Jember saat ini.
"Perguruan tinggi punya peran penting dalam mendorong perubahan sosial. Ketika kampus mulai memberi perhatian pada isu lansia, ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk melakukan hal yang sama," pungkasnya. (dhi)
Editor : M ADHI SURYA