Radar Jember - Angka-angka yang selama ini mereka pelajari di sela kesibukan sekolah dan pesantren kini membuka jalan lebih jauh.
Afghani Gilang Hidayatullah Farid dan Muvida Azzahra tak hanya menjadi yang terbaik di tingkat nasional, tetapi juga bersiap membawa nama Jember pada kompetisi matematika internasional di Singapura.
Peci hitam yang dikenakan Afghani Gilang Hidayatullah Farid dan jilbab khas santri yang membingkai wajah Muvida Azzahra mungkin tak jauh berbeda dengan santri lainnya di lingkungan SMP Nuris Jember.
Namun, beberapa pekan terakhir, keduanya sedang sibuk dengan sesuatu yang tak biasa.
Bukan menghafal jadwal pelajaran atau kegiatan pesantren, melainkan menyiapkan diri menuju Singapura setelah lolos ajang matematika tingkat internasional.
Kabar itu datang setelah keduanya meraih predikat Distinction dalam International Mathematics Contest Singapore (IMCS) tingkat nasional.
Hasil tersebut menjadi tiket untuk tampil pada kompetisi internasional yang akan mempertemukan peserta dari berbagai negara pada Juli mendatang.
Bagi Vida, matematika bukan sekadar angka dan rumus. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah akrab dengan berbagai kompetisi sains dan matematika.
Dari sekian banyak materi yang dipelajari, aljabar menjadi bagian yang paling disukainya. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menemukan jawaban dari persoalan yang rumit.
Jalan menuju pencapaian itu tentu tidak selalu mulus. Banyak soal yang menggunakan bahasa Inggris, sementara waktu pengerjaan sangat terbatas.
Karena itu, selepas jam pelajaran sekolah, ia masih mengikuti pembinaan khusus hingga sore hari bersama guru pembimbing atau mentor.
“Sebagian besar soal menggunakan bahasa Inggris. Jadi kami harus membiasakan diri memahami istilah yang digunakan, selain menguasai materinya,” ujar Vida siswi kelas VII SMP Nuris Jember.
Di sisi lain, Gilang menyimpan cerita berbeda. Siswa kelas VIII, mengaku sempat tidak percaya ketika namanya dinyatakan lolos ke tingkat internasional.
Meski awalnya sempat pesimis, namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi semangat setelah mendapat dukungan dari guru dan keluarga.
Malam hari menjadi waktu favoritnya untuk belajar. Seusai aktivitas pesantren, ia kembali membuka catatan dan mengulang materi yang diperoleh di sekolah. Aljabar juga menjadi bidang yang paling ia kuasai.
Sebaliknya, geometri justru menjadi tantangan yang terus dikejar. Tak jarang ia menyisihkan waktu selepas Subuh maupun sebelum tidur untuk berlatih soal-soal geometri.
“Awalnya saya pesimis. Alhamdulillah berkat pendampingan sekolah dan doa orang tua bisa sampai di tahap ini. Sekarang fokus saya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menuju Singapura,” katanya.
Di tengah kehidupan pesantren yang identik dengan kitab, jadwal mengaji, dan disiplin harian, Gilang dan Vida mencatat mimpi besarnya bisa tumbuh bahkan terwujud diantar dekapan doa dan usaha.
“Doa orang tua, pengasuh pesantren, guru termasuk teman-teman menjadi dorongan spiritual kami,” pungkas Gilang. (ika/dhi/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh