Radar Jember - Berangkat dari ketekunan melatih pelafalan dan ekspresi sejak dini, Siti Aviesyah El-Masry sukses menembus persaingan nasional dan meraih juara dua English Story Telling eNJe Fest 2025 yang digelar Pondok Pesantren Nurul Jadid.
Balutan jas hijau khas madrasah tampak rapi dikenakan seorang siswi berhijab krem. Di tangan kirinya, trofi berwarna emas dengan ornamen bintang dijunjung mantap, hasil dari proses latihan yang ia jalani secara konsisten.
Dia adalah Siti Aviesyah El-Masry, siswi kelas VIII E di MTs Unggulan Nuris Jember yang berhasil mengukir prestasi di level nasional. Dalam ajang English Story Telling eNJe Fest 2025, ia meraih juara dua.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid sejak akhir Desember 2025 di Paiton, Probolinggo, dengan peserta dari berbagai daerah. Dalam penampilannya, Aviesyah menunjukkan kemampuan story telling yang matang.
Ia mampu menyampaikan cerita berbahasa Inggris dengan pelafalan yang jelas, intonasi terjaga, serta ekspresi yang mendukung isi cerita. Perjalanan menuju capaian tersebut dimulai sejak ia duduk di bangku sekolah dasar.
Saat itu, ia mulai mengenal dan melatih kemampuan berbicara di depan umum, khususnya dalam bahasa Inggris. “Saya sudah belajar bahasa Inggris sejak SD, terutama pengucapan,” ungkap Aviesyah.
Ia menambahkan, proses belajar itu terus berlanjut hingga sekarang dengan fokus yang lebih luas. Tak hanya pelafalan, ia juga melatih ekspresi agar penyampaian cerita terasa lebih hidup. “Sekarang saya lebih banyak belajar mengatur ekspresi dan menghayati cerita,” katanya.
Menurutnya, memahami isi cerita menjadi kunci utama dalam story telling. “Kalau sudah paham maknanya, penyampaian jadi lebih enak dan tidak kaku,” ujarnya.
Latihan dilakukan secara rutin, mulai dari mengulang materi hingga memperbaiki intonasi di madrasah maupun di sela-sela kegiatan pesantren. “Saya biasanya latihan berulang-ulang supaya lebih percaya diri saat tampil,” tambahnya.
Ketertarikannya di bidang komunikasi pun mulai mengarah pada cita-cita. Ia ingin menjadi public speaker entertain, bahkan bercita-cita menjadi pramugari yang lahir dari rahim pesantren. “Saya ingin bisa berbicara dengan baik di depan banyak orang,” tuturnya.
Dukungan dari orang tua, madrasah, dan guru pembina menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Baginya, capaian ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus mengasah kemampuan dan berani bersaing di tingkat yang lebih tinggi bahkan di kancah internasional. (Ika/c2/bud)
Editor : Imron Hidayatullahh