Radar Jember - Prestasi di bidang informatika lahir dari ketekunan memahami dasar, disiplin belajar mandiri, serta keberanian menaklukkan algoritma dan baris kode.
Seperti yang ditunjukkan Muhammad Faisal Hafizh Xavier, siswa SMK Nuris Jember peraih juara OSNK.
Setelan jas hijau tua membingkai tubuh remaja itu dengan rapi, peci hitam terpasang tegak di kepala.
Sementara dasi hijau zaitun menjuntai lurus di atas kemeja krem.
Di tangannya, Muhammad Faisal Hafizh Xavier menggenggam piala berbentuk bintang penanda capaian yang ia raih dari dunia yang tak kasat mata, yaitu algoritma dan baris kode.
Hafizh, siswa kelas XI TKJ A SMK Nuris Jember, baru saja menorehkan prestasi dengan meraih juara 3 Olimpiade Sains Nasional tingkat Kabupaten (OSNK) bidang Informatika.
Di balik penampilannya yang tenang, tersimpan proses panjang menaklukkan soal-soal logika pemrograman yang menuntut ketelitian dan ketahanan berpikir.
Bidang informatika bukan sekadar urusan mengetik kode.
Hafizh harus memahami alur algoritma, membaca perintah, serta memecahkan persoalan logis yang kerap berlapis.
Kompetisi ini menuntut pemahaman konsep, bukan hafalan semata.
Menurut Hafizh, fondasi terpenting justru datang dari mata pelajaran dasar.
Matematika membantunya membangun logika, sementara bahasa Inggris menjadi kunci memahami istilah teknis dalam soal.
“Dua kemampuan itu saling menguatkan ketika berhadapan dengan algoritma coding,” tuturnya.
Selain mendapatkan pemdampingan intens dari sekolah, di lingkungan pesantren tempat ia belajar, Hafizh membiasakan diri belajar mandiri.
Waktu luang dimanfaatkan untuk membongkar ratusan soal, mencoba berbagai kemungkinan jawaban, hingga memahami letak kesalahan. P
roses itu dilakoni berulang, bahkan hingga ratusan soal.
Meski memiliki dasar bahasa Inggris, Hafizh tak berhenti di sana.
Ia terus mengasah kemampuan pemrograman menggunakan bahasa C++, bahasa pemrograman serbaguna yang kerap digunakan dalam kompetisi informatika.
“Tantangannya adalah menyatukan logika soal dengan struktur kode yang tepat,” imbuhnya.
Menariknya, Hafizh mengaku belum lama mendalami dunia pemrograman secara serius. Namun, keterbatasan itu justru memupuk optimisme.
Ia memandang setiap soal sebagai ruang belajar, bukan beban yang harus ditakuti. “Ini lomba perdana saya.
Target saya bisa terus berkembang hingga tingkatan tertinggi,” tutur Hafizh.
OSNK baginya bukan akhir, melainkan gerbang awal untuk melangkah ke level kompetisi yang lebih tinggi.
Hafizh bercita-cita menjadi web developer atau programer.
“Tentu saya tak ingin menyia-nyiakan perkembangan teknologi, harus bisa beradaptasi,” pungkasnya. (ika/dhi/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh