Radar Jember - Semua berawal dari rasa. Dari dapur sederhana, aroma mengundang selera.
Ayam Cumlaude pun tumbuh dari sekadar coba-coba menjadi cita rasa yang selalu dicinta.
Perpaduan warna merah dan putih mendominasi sudut ruangan, sederhana namun akrab di mata. Alunan musik ringan mengisi jeda, membuat waktu terasa melambat meski jam terus berjalan.
Pelayan menyapa dengan senyum ramah, sementara daftar harga terlihat bersahabat. Tempat ini terasa seperti persinggahan yang tidak menuntut, hanya mengajak duduk dan menikmati.
Ayam Cumlaude tidak lahir dari rencana besar atau modal berlimpah. Usaha ini justru tumbuh di masa sulit ketika pandemi Covid-19 mengubah banyak hal.
Pada 2021, outlet pertama berdiri di Perumahan Puri Bunga Nirwana, Jember. Saat itu, semua menu hanya dilayani melalui sistem take away. Kesederhanaan itulah yang menjadi kunci awal untuk bertahan.
Memulai usaha di tengah keterbatasan bukan perkara mudah. Modal seadanya dan sumber daya terbatas menjadi tantangan sehari-hari.
Namun, dari dapur kecil itu, mimpi perlahan dirajut dengan penuh keyakinan. Setiap pesanan dibungkus dengan harapan agar usaha ini terus hidup.
Perlahan, langkah Ayam Cumlaude mulai meluas. Pada 2023, outlet baru dibuka di Jalan Mastrip, Sumbersari, Jember. Untuk pertama kalinya, pelanggan bisa menikmati menu langsung di tempat.
Lalu pada 2024, outlet luar Jember dibuka. Lokasinya di Situbondo. Konsepnya masih sederhana dengan fokus pada layanan take away.
"Buka di rumah saudara, sehingga hanya melayani take away saja," kata owner Ayam Cumlaude, Hayfi Wasid Adalah.
Setahun berselang, pada 2025, outlet kembali bertambah di Kelurahan Kebonsari. Dari bungkus ke meja makan, perjalanan itu terasa semakin nyata.
Ada satu menu andalan. Namanya Ayam Cumlaude Nasi Rempah. Menu ini lahir dari proses pencarian yang panjang.
Awalnya, dua owner Hayfi dan Riski Tri Waskita hanya menyajikan nasi ayam geprek seperti banyak tempat makan lain.
Persaingan yang ketat di Jember mendorong mereka mencari pembeda. Pilihan itu datang hampir tanpa sengaja dari sajian nasi berbumbu rempah.
“Awalnya coba-coba, ayamnya kami kembangkan dari menu nasi rempah,” ujar Hayfi.
Tidak banyak tempat makan di Jember yang menyajikan nasi rempah. Kekosongan inilah yang menjadi nilai tawar Ayam Cumlaude.
Bumbu rempah diolah dan digabungkan dengan nasi hingga melahirkan nasi rempah khas. Aromanya kuat, menggugah selera, dan membuat siapa pun ingin segera menyantapnya.
Inspirasi racikan rempah datang dari berbagai sajian ayam rempah. Percobaan demi percobaan dilakukan di dapur dengan penuh kesabaran. Dari takaran yang belum pas hingga rasa yang belum seimbang.
“Alhamdulillah, setelah dicoba responnya di luar dugaan,” ujar Hayfi.
Soal resep, Ayam Cumlaude menyimpan cerita tersendiri. Bumbu rempah dasarnya berasal dari resep orang tua.
Namun, pengolahan ayam dan nasi merupakan eksplorasi pribadi. Proses uji rasa dilakukan berulang kali selama berbulan-bulan.
“Butuh sekitar tiga bulan sampai kami benar-benar menemukan gramasinya,” ungkapnya.
Uji rasa tidak hanya dilakukan sendiri. Teman dan kerabat ikut mencicipi dan memberi masukan.
Setiap pendapat dicatat untuk menyempurnakan rasa. Targetnya sederhana, bisa diterima semua kalangan.
“Kami ingin rasanya cocok dari mahasiswa sampai keluarga,” imbuh Riski.
Sementara itu, nama Ayam Cumlaude lahir dari kedekatan dengan segmen pasar awal. Mahasiswa menjadi sasaran utama sejak awal berdiri.
Banyak pesanan datang untuk acara seminar, proposal, hingga sidang. Nama “cumlaude” dipilih karena mudah diingat dan dekat dengan dunia kampus.
“Siapa yang tidak kenal kata cumlaude, mahasiswa pasti sudah akrab. Makanya kami pilih itu. Ya, meskipun sekarang segmen pelanggannya semakin meluas kami tetap menggunakan nama itu,” jelasnya.
Lebih dari sekadar usaha kuliner, Ayam Cumlaude membawa harapan. Mereka ingin nasi rempah ini kelak dikenal sebagai makanan khas Jember.
Menu yang jarang dijumpai di tempat lain menjadi pembeda utama. Rempah bukan sekadar bumbu, melainkan karakter rasa yang kuat.
“Kami berharap Ayam Cumlaude bisa jadi identitas kuliner Jember,” ujar Riski.
Di balik dapur dan meja makan, ada prinsip yang terus dipegang. Visi Ayam Cumlaude dirangkum dalam dua kata, keberkahan dan kebermanfaatan.
Usaha tanpa berkah dianggap tidak memiliki arti. Begitu pula usaha yang tidak memberi manfaat bagi sekitar.
“Itu prinsip utama kami menjalankan usaha dan terus kami pegang,” tegas Riski.
Perjalanan ini tentu tidak lepas dari tantangan. Memulai dari nol menuntut ketekunan dan tekad yang kuat.
Persaingan semakin ketat seiring banyaknya kompetitor dari luar daerah. Namun, kualitas rasa dan pelayanan tetap menjadi pegangan.
“Kami terus meningkatkan menu dan pelayanan,” katanya.
Kenaikan harga bahan baku juga menjadi ujian tersendiri. Meski demikian, standar kualitas tetap dijaga.
Saat ini, sekitar 45 karyawan bekerja di seluruh outlet. Mereka tumbuh bersama usaha yang dimulai dari nol.
Ayam Cumlaude juga membuka diri untuk kolaborasi. Salah satunya dengan Makmur Printing Jember sebagai mitra kemasan.
Program promo pun terus berjalan, termasuk poin belanja di atas Rp 40 ribu yang bisa ditukar makanan setelah poin terkumpul.
Ke depan, menu katering tengah dipersiapkan. Harapannya, usaha ini ikut menggerakkan ekonomi daerah.
Di ujung malam, Ayam Cumlaude tetap menyala. Ia hadir 24 jam sebagai tempat singgah berbagai cerita. Dari mahasiswa hingga pekerja.
Dari pandemi hingga hari ini. Perjalanannya masih panjang, dengan aroma rempah yang tetap mengundang. (ika/kin/c2/nur)