Radar Jember - Kabar baik datang dari sektor pertanian Jember.
Setelah dua bulan dihantam curah hujan ekstrem, tiga kali lipat lebih tinggi dari normal sebagaimana edaran resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sempat membuat harga tembakau anjlok.
Namun, petani tembakau Besuki Na Oogst di daerah Jember Selatan tetap bisa bernapas lega.
Ini karena ada perusahaan yang membeli mahal tembakau saat harganya jatuh.
Intensitas hujan tinggi membuat banyak lahan tergenang, dan memaksa petani melakukan panen prematur.
Dampaknya, kualitas daun tembakau merosot dan nilai jualnya anjlok.
Kondisi ini sempat menempatkan ribuan petani pada ancaman kerugian besar akibat biaya produksi yang melonjak, namun harga jual terancam murah.
Nah, di tengah krisis yang mengancam mata pencaharian ribuan petani itu, PT Tempu Rejo, perusahaan tembakau terkemuka di Jember, mengambil inisiatif berani dan strategis.
Perusahaan mengumumkan adanya penyesuaian kenaikan harga beli untuk kelas tembakau Besuki Na Oogst tertentu sekalipun terkena dampak cuaca ekstrem.
Sejumlah petani tembakau menilai, langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis.
Namun berkaitan erat dengan keberlanjutan dan kesejahteraan petani mitra.
"Tanpa penyesuaian harga ini, kami pasti berjuang keras untuk menutupi biaya operasional," kata Sukirno Wardoyo, petani tembakau mitra PT Tempu Rejo asal Dusun Tegal Banteng, Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, saat ditemui, Senin (8/12).
Menurutnya, tingginya curah hujan pada Agustus-November 2025 kemarin membuat kualitas hasil panen tembakau menurun.
Sedikitnya, dari total 28 hektare lahan tembakau milik petani mitra anggotanya, sebanyak 17 hektare lainnya terendam air.
Hal itu diperparah dengan serangan hama dan penyakit.
"Umpamanya perusahaan minta kualitas A, kami tidak bisa menyediakan, karena serangan hama tadi. Begitu juga dengan yang kualitas B, ini faktor cuaca ekstrem," bebernya.
Sukirno mengaku bersyukur, PT Tempu Rejo mengambil langkah yang membahagiakan untuk petani tembakau.
Meski tak bisa menyediakan kualitas yang diharapkan perusahaan, tapi tembakau petani tetap diapresiasi dengan harga beli yang tinggi. Bahkan harganya naik.
"Alhamdulillah, petani kami biar pun jatuh, tapi bisa tertawa. Karena perusahaan masih bisa mengangkat harga, ada jaminan dan kepastian harga," imbuh petani yang telah belasan tahun menjalin kemitraan dengan PT Tempu Rejo ini.
Sementara Urip, petani mitra asal Desa Bagon, Kecamatan Puger, menyebut cuaca ekstrem selama dua bulan lalu membuat 1,5 hektare lahan tembakau miliknya ambyar.
"Parah sekali dampaknya, operasional kami membengkak, kualitasnya juga turun," akunya.
Begitu mengetahui informasi bahwa PT Tempu Rejo menaikkan harga tembakau petani melalui aplikasi UIShare dan petugas lapangan, Urip tak menyia-nyiakan peluang.
Ia menilai, terobosan itu tak sekadar tanggung jawab sosial perusahaan untuk jangka panjang.
Namun, juga menjadi ‘juru selamat’ para petani yang tengah dilanda paceklik.
"Tentu kami sangat bersyukur, kenaikan ini sangat membantu, sehingga kami bisa menutup modal, dan masih bisa untung juga," imbuh petani yang telah 9 tahun menjalin kemitraan dengan PT Tempu Rejo itu.
Manajer DAC IPS PT Tempu Rejo, Bondan Hendarta, menegaskan, kebijakan ini adalah bagian dari inisiatif CSR dan kemitraan jangka panjang.
Diharapkan, langkah ini dapat memperkuat kemitraan antara perusahaan dan petani di tengah tantangan iklim yang semakin tidak menentu.
"Keputusan ini mencerminkan komitmen kami terhadap kesejahteraan petani. Kami akan terus mendukung petani mitra dan masyarakat sekitarnya untuk meminimalkan dampak ekonomi dan sosial," katanya, dalam keterangan resminya, Minggu (8/12). (ika/mau/dwi/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh