JAMPIT, Radar Ijen - Dalam rangka mendukung program ketahanan pangan, Universitas Jember (UNEJ) dan Universitas Bondowoso (UNIBO) bekerjasama mengembangkan teknologi tepat guna melalui pemberdayaan kemitraan masyarakat (PKM) tahun 2025, Senin, 10 November 2025.
Dengan program dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi tersebut, UNEJ dan UNIBO melaksanakan pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan teknologi inovasi untuk produksi keripik kentang menggunakan mesin pengering yang dilengkapi perangkat Internet of Things (IoT) berbasis embedded controller.
UNEJ dan UNIBO memilih salah satu dusun terpencil di Desa Jampit Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso untuk pengembangan teknologi tepat guna ini dalam rangka mewujudkan salah satu misi asta cita pemerintah yang ke enam, yakni pembangunan dari desa untuk pemerataan ekonomi.
Misi ini menekankan bahwa pembangunan dimulai dari desa dengan tujuan pemerataan ekonomi dan percepatan pengentasan kemiskinan dengan melibatkan peningkatan akses infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di daerah pedesaan.
Ketua tim pelaksana PKM 2025, Achmad Maududie mengungkapkan bahwa Dusun Jampit merupakan dusun paling terpencil dari tiga dusun yang berada di Desa Jampit, Kecamatan Ijen. Secara geografis terletak di ujung utara Desa Jampit dan memiliki ketinggian rata-rata 1.354 mdpl.
Wilayah tersebut juga merupakan satu-satunya daerah penghasil penghasil kentang putih yang yang dibudidayakan dengan sistem kemitraan. Hasil panen yang sudah dishortir dijual kepada mitra, sedangkan hasil sisanya seringkali tidak termanfaatkan dengan baik.
Salah satu upaya untuk mengawetkan hasil panen adalah dengan produksi keripik kentang. Namun untuk proses pengawetan tersebut, masyarakat mengalami kendala berupa kurangnya intensitas penyinaran matahari. "Sehingga untuk proses pengeringan yang maksimal masih tergantung pada musim kemarau. Hal ini menyebabkan produksi keripik kentang sering terganggu," jelas Achmad.
Menurut Achmad, perlu ada teknologi dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk di dusun tersebut. "Kami, Tim PKM 2025 mengadakan program sosialisasi, pelatihan dan pendampingan. Tak hanya itu, kami berikan bantuan berupa satu set mesin pengering yang dilengkapi dengan perangkat IoT berbasis embedded controller," ungkapnya.
Perangkat IoT merupakan konsep dimana perangkat mesin industri (kecil maupun besar) terhubung melalui internet untuk mengumpulkan, mengirim dan bertukar data secara otomatis. Dengan basis embedded controller, dalam mesin pengering tersebut ditanamkan chip komputer yang berfungsi untuk mengendalikannya secara otomatis.
Dalam pelaksanaannya, Achmad bersama kedua rekannya yakni Anang Andrianto dari Universitas Jember dan Rini Purwatiningsih dari Universitas Bondowoso menggandeng salah satu kelompok masyarakat pancaran sholawat nariyah (Pancasona) sebagai mitra.
Dengan perangkat IoT berbasis embedded controller tersebut, tim PKM 2025 mampu menyelesaikan permasalahan pengeringan bahan baku keripik kentang putih dan dapat berproduksi secara kontinyu, karena sudah tidak tergantung lagi pada penyinaran matahari. Sehingga mitra menjadi lebih produktif secara ekonomi.
Achmad Maududie mengungkapkan, program dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kemdiktiristek sangat bermanfaat untuk peningkatan ekonomi masyarakat. "Terima kasih kami sampaikan kepada DPPM Kemdiktiristek atas dukungan pendanaan dan kepercayaannya. Semoga kegiatan ini menjadi program kemitraan dalam mewujudkan keberdayaan Masyarakat berbasis teknologi," pungkasnya.
Editor : M. Ainul Budi