Radar Jember - Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Afifara Maulidia, siswi SMA Nuris Jember, punya ritual sederhana.
Berdiri tegak, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Latihan itu bukan sekadar rutinitas, tapi cara baginya menjaga kestabilan suara.
Dari kebiasaan kecil itulah, suara merdunya kini menggema hingga panggung musabaqah tilawatil Quran (MTQ) tingkat Jatim.
Gadis 17 tahun asal Jelbuk itu baru saja menorehkan prestasi membanggakan.
Ia meraih juara 3 cabang syarhil Quran bagian tilawah pada MTQ XXXI yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) di Jember.
Saat tampil di atas panggung, lantunan ayatnya terdengar jernih dan berirama lembut, seolah tiap tarikan napasnya membawa ketenangan.
“Saya cuma ingin bacaan saya bisa menyentuh hati orang,” katanya pelan.
Perjalanan Afifara menuju panggung provinsi tak singkat. Sejak SMP, dia sudah belajar tartil Quran.
Namun, keseriusannya tumbuh saat masuk SMA Nuris Jember.
Di sekolah itu, ia bergabung dalam ekstrakurikuler tilawah yang membuatnya mengenal dunia irama dan teknik vokal lebih dalam.
“Di SMA Nuris Jember saya belajar bukan cuma membaca, tapi menghayati,” ujarnya.
Latihan pernapasan menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya.
Setiap hari ia melatih diafragma agar kuat menahan nada panjang.
Bahkan sebelum tidur, ia kerap mempraktikkan teknik pernapasan yang diajarkan pembinanya.
“Latihan napas itu kuncinya tilawah. Kalau napasnya tenang, suaranya ikut tenang,” katanya.
Setiap sore, selepas jam pelajaran, ia bergabung bersama teman-temannya di ruang ekstrakurikuler.
Di sana, suara-suara lembut terdengar bergantian. Kadang mereka saling mengoreksi nada, kadang sekadar tertawa karena suara fals.
“Suara saya dulu cepat habis. Tapi setelah rutin latihan napas, bisa tahan sampai ayat panjang,” ujarnya.
Ketekunan itu terbukti ketika Afifara tampil di panggung MTQ Jawa Timur.
Ia memulai dengan nada rendah, menahan napas panjang di akhir ayat, dan menutupnya dengan penghayatan yang membuat dewan juri terdiam sesaat.
“Setiap kali selesai membaca, saya selalu merasa lega. Seperti baru saja berbicara dengan hati sendiri,” ucapnya.
Sembari menunggu nama yang akan mewakili Jatim ke tingkat nasional, Afifara ingin terus memperdalam dunia tilawah sambil lalu mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Jember.
“Saya ingin tetap belajar dan berbagi. Suara ini amanah, dan napas panjang ini harus terus dilatih,” pungkasnya. (ika/dhi/c2/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh