Cegah Stunting Dimulai dari Posyandu, Pertamina bersama RSUK Jember Gelar Pelatihan untuk Kader

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Sabtu, 11 Oktober 2025 | 13:05 WIB
KEBERSAMAAN: Jajaran PT Pertamina dan Rumah Sakit Umum Kaliwates berfoto bersama dalam kegiatan CSR pelatihan kader Posyandu, kemarin (10/10).
KEBERSAMAAN: Jajaran PT Pertamina dan Rumah Sakit Umum Kaliwates berfoto bersama dalam kegiatan CSR pelatihan kader Posyandu, kemarin (10/10).

 

Radar Jember - Kader posyandu menjadi ujung tombak dalam upaya pencegahan stunting di tingkat paling bawah.

Sebab, dari tangan mereka edukasi gizi dan deteksi tumbuh kembang anak pertama kali dilakukan.

Untuk memperkuat peran tersebut, PT Pertamina (Persero) bersama Indonesia Healthcare Corporation (IHC) dan RSU Kaliwates menggelar pelatihan bagi para kader, kemarin (10/10).

VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero) Rudi Ariffianto menuturkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) yang difokuskan pada tiga hal utama.

Pencegahan stunting, posyandu hijau, serta kesiapsiagaan bencana.

Stunting masih menjadi tantangan besar di Jember. Angkanya masih cukup tinggi, bahkan mencapai sekitar 30 persen. Karena itu, kami ingin berkontribusi membantu pemerintah menekan angka tersebut lewat penguatan kader posyandu,” ujarnya.

Menurut Rudi, pelatihan ini penting karena kader merupakan garda terdepan dalam menyampaikan edukasi kepada calon ibu dan keluarga muda.

Mereka akan menjadi jembatan informasi terkait gizi, kesehatan ibu hamil, hingga cara pemantauan tumbuh kembang anak.

“Kami ingin para kader benar-benar siap menjadi penggerak agar generasi 2045 terbebas dari stunting,” imbuhnya.

Selain pelatihan stunting, Pertamina juga menggagas posyandu hijau, yaitu kegiatan menanam tanaman obat keluarga atau fitofarmaka yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan herbal.

Tak hanya itu, program pelatihan tanggap bencana dan pemberian perlengkapan P3K bagi sekolah juga dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesiapan masyarakat menghadapi kondisi darurat.

Sementara itu, dokter spesialis anak RSU Kaliwates, dr Edga D. Armina, yang menjadi narasumber pelatihan, menjelaskan, kemampuan kader posyandu dalam mendeteksi dini tanda-tanda stunting sangat penting.

“Semakin cepat diketahui, semakin mudah ditangani. Kalau sudah telat, sudah di bawah standar deviasi, penanganannya jadi lebih sulit dan biayanya juga lebih besar,” terangnya.

Menurutnya, tidak semua anak bertubuh pendek otomatis dikategorikan stunting.

Ada faktor genetik atau kelainan bawaan yang juga bisa menyebabkan perawakan pendek.

“Cara membedakannya bisa dilihat dari grafik pertumbuhan anak. Di situlah kader perlu dibekali kemampuan membaca dan menganalisis data tumbuh kembang,” ujarnya. (yul/c2/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
Jember IHC Indonesia Healtcare Corporation RSU Kaliwates pertamina srunting