Radar Jember - Suara mereka melengking lembut, berpadu dengan ekspresi wajah penuh penghayatan di MTQ XXXI Jawa Timur.
Setiap gerak dan tatapan mata Lailatul Jannah serta Muhammad Helmi Fauzan Kamil menghadirkan syarhil Quran merdu di telinga dan mengetuk nurani siapa pun yang menyaksikannya.
Malam itu, di tengah sorot lampu panggung MTQ XXXI Jawa Timur, dua siswa MA Unggulan Nuris tampak memukau.
Lailatul Jannah berdiri anggun dengan balutan hijab cokelat muda dan busana hitam berhias motif batik.
Di sampingnya, Muhammad Helmi Fauzan Kamil tampil gagah mengenakan baju hitam bermotif batik keemasan, lengkap dengan peci yang membuat auranya kian khidmat.
Senyum Laila begitu tenang saat memegang piala berlapis kaca.
Sementara di sisi lain, Helmi berdiri gagah dengan piagam penghargaan di tangan keduanya simbol semangat muda yang menyalakan kebanggaan Jember malam itu.
Sebelum sampai ke panggung kehormatan itu, perjalanan mereka tak mudah.
Berbulan-bulan sebelumnya, Laila dan Helmi berlatih setiap sore di aula pesantren.
Mereka mengulang intonasi, memperbaiki jeda suara, hingga belajar menyesuaikan ekspresi wajah agar pesan dakwah terasa hidup.
“Setiap kata harus sampai ke hati pendengar,” ujar Laila.
Hasilnya, dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Jawa Timur 2025 yang digelar di Jember, Laila berhasil meraih juara 3 cabang Syarhil Qur’an Putri.
Sedangkan Helmi sukses menempati posisi pertama cabang Syarhil Quran Putra.
Ketika tampil, Laila memukau dewan juri dengan penghayatan mendalam.
Suaranya naik turun dengan ritme lembut, tatapan matanya fokus, dan tangan bergerak seirama.
“Awalnya sulit mengatur nada dan penekanan, tapi saya belajar setiap hari agar bisa menjiwai isi teks,” kata siswi asal Ampel-Wuluhan itu.
Helmi tampil dengan gaya berbeda.
Suaranya tegas, artikulasi mantap, dan bahasa tubuhnya kompak bersama dua rekannya.
“Kami berlatih hampir tiap malam. Rasanya semua lelah terbayar ketika nama Jember disebut sebagai juara,” ujarnya lega.
Santri asal Maesan, Bondowoso, itu memang dikenal aktif di berbagai lomba.
Ia langganan juara pidato, dai, hingga olimpiade bahasa Indonesia.
“Saya ingin terus belajar komunikasi, karena dakwah juga butuh cara berbicara yang baik,” tuturnya.
Cita-citanya pun tak jauh dengan apa yang ia tekuni selama ini, yaitu menjadi publik speaker alias seorang dai atau presenter.
“Saya ingin tetap fokus dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan basis keilmuan komunikasi,” pungkas Helmi. (ika/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh