Radar Jember - Prestasi itu ibarat obor yang menyalakan semangat di setiap sudut kelas SMA Nuris Jember.
Dari langit ilmu astronomi hingga samudra teori ekonomi, dua siswi ini membuktikan bahwa mimpi bisa digapai dengan tekad yang teguh.
Berbalut seragam blazer marun khas SMA Nuris Jember, Kayla Ramadhani Arinal Haq dan Ghina Layla tampil percaya diri dengan medali dan piala di tangan.
Senyumnya sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang kegigihan belajar yang tak kenal lelah.
Kedua siswi ini baru saja mengharumkan nama sekolah dengan meraih juara 1 Olimpiade Sains Nasional Tingkat Kabupaten (OSN-K).
Kayla, siswi kelas XII MIPA 1 asal Pamekasan, Madura, menjadi yang terbaik di bidang astronomi.
Di usianya yang baru 18 tahun, ia dikenal tekun mengasah kemampuan lewat drilling soal setiap hari.
“Sangat bersyukur, lega, sekaligus merasa tertantang ke tahap selanjutnya,” ujar Kayla dengan mata berbinar.
Perjuangan Kayla tidak singkat. Selama enam bulan penuh, ia mengikuti pembinaan intensif bersama tentor profesionalnya.
Latihan soal, diskusi, hingga presentasi subbab ia jalani dengan konsisten.
Tantangan terbesar baginya justru bukan soal rumit, melainkan melawan rasa overthinking saat lomba.
“Saya belajar menyiapkan mental lewat doa dan tryout rutin,” tambahnya.
Sementara itu, Ghina Layla, siswi kelas XI IPS 2 asal Karangasem, Bali, tampil cemerlang di bidang ekonomi.
Gadis 16 tahun ini berhasil membuktikan diri sebagai juara 1 OSN-K sekaligus mempertahankan prestasi akademik sebagai peringkat 1 kelas dan paralel sejak semester ganjil.
Ghina mengaku sempat kesulitan mengikuti pembelajaran karena padatnya agenda pembinaan.
Namun, motivasinya tetap kuat.
“Ingin menjadikan angan-angan menjadi kenyataan,” ungkapnya.
Strateginya sederhana, rajin mendengarkan penjelasan guru, aktif bertanya, dan memanfaatkan waktu kosong untuk latihan soal.
Di luar akademik, Ghina juga dikenal sebagai santri tahfiz dengan hafalan 10 juz Alquran.
Ia bahkan sempat menorehkan prestasi di ajang pesantren, mulai dari Musabaqah Hifzhil Quran hingga lomba internal lainnya.
Cita-citanya ingin menjadi guru sekaligus membanggakan orang tua.
“Kalau bisa jadi dosen bidang ekonomi,” tuturnya.
Baik Kayla maupun Ghina mengakui bahwa dukungan guru dan keluarga menjadi energi penting.
Namun, keduanya sepakat bahwa kunci terbesar ada pada motivasi diri.
“Yang pasti diri saya sendiri sebagai support system utama untuk memotivasi semangat belajar,” tegas Ghina. (ika/dhi/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh