Radar Jember - Setiap malam, Ahmad Harisun Nafi’ punya kebiasaan sederhana tapi bermakna.
Siswa kelas XI E MA Unggulan Nuris Jember itu berdiri di depan cermin kamarnya.
Lalu melantunkan kata demi kata bahasa Arab dengan penuh penjiwaan.
Sesekali ia memperhatikan gerak bibir, ekspresi wajah, hingga gestur tangannya.
Bagi Harisun, nama akrabnya, cermin adalah sahabat terbaik sebelum ia naik ke panggung khitobah.
Tak jarang, kawan-kawannya di asrama pesantren pun dijadikan audiens dadakan.
Ada yang menanggapi serius, ada pula yang menggoda.
Namun, semua itu ia terima sebagai bahan belajar.
“Kalau teman-teman bilang ekspresi saya kurang hidup, berarti harus diperbaiki,” ucapnya.
Ketekunan itu akhirnya berbuah manis, dalam ajang Khitobah Bahana Muharram yang digelar oleh Yayasan Masjid Al Baitul Amien Jember, Harisun berhasil meraih juara 2 tingkat kabupaten.
Ia tampil percaya diri di hadapan juri, dengan bahasa Arab fasih dan retorika yang mengalir.
Di balik prestasinya, ada rutinitas yang selalu ia jalani.
Harisun rajin menghafal mufrodat (kosakata bahasa Arab) setiap hari.
Targetnya sederhana, menambah sedikit demi sedikit, tapi konsisten.
Kebiasaan itu membuat kosa katanya semakin kaya, sehingga ia mudah merangkai kalimat saat tampil di depan umum.
Lebih jauh, ia juga membiasakan diri berdialog dengan bahasa Arab dalam keseharian.
Di kantin pesantren, di asrama, hingga di sela-sela belajar, ia mencoba mempraktikkannya.
“Kalau terbiasa, nanti pas lomba tidak canggung lagi,” jelasnya.
Lingkungan sekitarnya pun sangat mendukung.
Sesama santri saling mengingatkan untuk berbicara dengan bahasa Arab.
Meski kadang diselingi tawa karena salah ucap.
Bagi Harisun, khitobah bukan sekadar perlombaan.
Ia memandangnya sebagai seni menyampaikan pesan kebaikan.
“Kalau kita bisa berbicara dengan baik, insyaallah orang lain bisa lebih mudah menerima pesan yang kita bawa,” katanya.
Itulah yang membuatnya terus berlatih, meski tanpa kompetisi sekalipun.
Ke depan, Harisun bertekad tak berhenti di sini.
Ia ingin menembus ajang khitobah tingkat provinsi, bahkan nasional.
“Kalau Allah izinkan, saya ingin membawa nama baik sekolah dan pesantren lebih jauh lagi,” pungkasnya. (ika/dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh