Radar Jember - Kata-kata baginya bukan sekadar rangkaian huruf.
Ia hidup, bernapas, dan menjelma rasa.
Dari ruang bertumbuh dan belajar puisi di SMA Nuris Jember, lahirlah bait-bait yang mengantarkan Faniyati Wardhani menuju panggung prestasi cipta puisi FLS3N Jawa Timur.
Bait demi bait lahir dari jemari mungil itu.
Kata-kata disulap menjadi jembatan rasa, menyapa pembaca dengan kelembutan sekaligus ketegasan makna.
Ialah Faniyati Wardhani, siswi kelas XII MIPA 1, yang kini berhak menyandang predikat juara cipta puisi dalam pergelaran Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jawa Timur.
Kemenangannya dalam kompetisi FLS3N yang dihelat oleh Puspresnas Kemendikdasmen, pada 12 hingga 13 Agustus lalu, bukan sekadar pencapaian pribadi.
Melainkan, bukti bahwa ketekunan dan cinta pada literasi mampu membuka jalan menuju panggung nasional sebagai salah satu delegasi Jawa Timur.
Namun, prestasi itu tidak hadir secepat membalikkan telapak tangan.
Faniyati, begitu ia akrab disapa, pernah merasakan pahitnya kegagalan.
Beberapa tahun silam, langkahnya terhenti sebelum mencapai panggung nasional.
Alih-alih menyerah, ia menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk terus menulis dan mengasah rasa.
“Kalau dulu saya kecewa, sekarang saya bersyukur pernah gagal. Justru dari kegagalan itu saya belajar banyak hal, terutama kesabaran,” ucapnya sambil tersenyum.
Di tingkat provinsi kali ini, jalan menuju juara bukan tanpa rintangan.
Puluhan peserta dari berbagai daerah Jawa Timur hadir dengan karya terbaiknya.
Persaingan ketat itu justru membuat Faniyati semakin serius menggarap puisinya.
Diksi dipilih cermat, tema ditenun dengan perasaan, hingga akhirnya lahirlah karya yang memikat hati juri.
“Puisi saya berangkat dari hal-hal sederhana di sekitar. Tapi saya mencoba memberi napas baru lewat sudut pandang yang lebih personal,” jelasnya.
Kini, setelah gelar juara provinsi sudah di genggaman, langkah Faniyati menuju panggung nasional kian terbuka.
Meski masih menunggu keputusan resmi, ia tak berpuas diri.
Bersama mentornya, ia terus mengasah kemampuan, membaca karya-karya penyair besar Indonesia.
Lalu, mengulasnya untuk menambah kedalaman rasa dalam setiap tulisan.
“Setiap buku yang saya baca memberi saya energi baru. Dari situ muncul ide-ide yang kadang tak terpikirkan sebelumnya,” ungkap gadis berhijab itu.
Di balik kesederhanaannya, Faniyati menyimpan mimpi besar: menjadi penulis yang mampu menginspirasi lewat kata-kata.
“Saya percaya, tulisan bisa menjadi doa sekaligus cahaya. Selama saya bisa menulis, saya akan terus berusaha menyalakan cahaya itu,” pungkasnya. (ika/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh