Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mahasiswa Unmuh Jember Lawan Stereotip Negatif Gen Z , Padukan Budaya Tradisional dengan Sentuhan Kekinian

M Adhi Surya • Sabtu, 12 Juli 2025 | 14:00 WIB

UNJUK KEMAMPUAN: Mahasiswa Unmuh Jember melestarikan kesenian Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua di Festival Budaya Unmuh, Jumat (4/7/2025) malam.  
UNJUK KEMAMPUAN: Mahasiswa Unmuh Jember melestarikan kesenian Nusantara mulai dari Aceh hingga Papua di Festival Budaya Unmuh, Jumat (4/7/2025) malam.  

Radar Jember – Musik menggema, lampu panggung menyala, dan satu per satu cerita dari penjuru Nusantara mulai dilantunkan.

Bukan oleh seniman senior, melainkan oleh anak-anak muda, mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, yang menolak diam di tengah arus budaya instan.

Suara itu digaungkan lewat Festival Budaya bertajuk Swara Muda Nusantara yang digelar oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Psikologi Unmuh Jember, Jumat (4/7/2025) malam.

Mereka menunjukkan jika Gen Z tak sekadar melek digital, tapi juga paham cara bersuara tentang budaya.

Acara yang dimulai selepas salat Isya bertempat di Aula Ahmad Zainuri itu pun langsung diserbu penonton.

Ketua Panitia, Zinatul Hayati, mengatakan, semula pihaknya hanya menyiapkan 500 kursi.

Tapi malam itu, jumlah yang hadir jauh dari cukup.

Bahkan semua larut dalam suasana.

Enam penampilan budaya dari berbagai daerah mulai Aceh hingga Papua mengisi panggung.

“Masing-masing membawa narasi sendiri, dibalut dengan gaya kekinian agar lebih dekat dengan selera anak muda,” tuturnya.

Dari Aceh, Kisah Harimau Betina Tanah Rencong membuka festival dengan tegas.

Lalu, disusul penampilan Jawa Tengah bertajuk Seribu tapi Tak Satu, dan Malang membawa kisah simbolik Darah di Balik Mahkota.

Sementara Banyuwangi menyuguhkan Legenda di Ujung Timur.

Tak luput, pertunjukan budaya Bali melalui karya teatrikal Waktu Berbisik di Bawah Terangnya Bulan Purnama.

Sebagai penutup, tarian Papua mengguncang aula lewat kombinasi lagu Apuse, Sajojo, hingga Yamko Rambe Yamko.

“Ini bukan sekadar festival. Ini panggung kecil di mana kami anak muda bicara tentang apa yang kami cintai. Budaya ini milik kita. Jangan sampai hilang,” tegasnya.

Mahasiswa psikologi semester enam itu menyebut festival ini sebagai bentuk perlawanan terhadap stereotip bahwa Gen Z pasif dan malas bergerak alias mager.

“Kami ingin membuktikan kalau kami bisa. Kami peduli dan kami bangga jadi bagian dari Indonesia,” tambahnya.

Selama lebih dari dua jam, suasana aula berubah menjadi lautan energi.

Sorak, tepuk tangan, dan nyanyian silih berganti. Ratusan orang rela berdiri, bahkan tetap bertahan hingga acara selesai menjelang pukul sembilan malam.

“Tak ada yang beranjak. Semua larut dalam suasana, seolah tak ingin melewatkan satu pun cerita yang dibawakan di atas panggung,” terangnya.

Zinatul berharap, festival ini bukan sekadar seremonial tahunan.

Ia ingin ini menjadi ruang aman bagi anak muda untuk mengekspresikan kecintaan pada budaya bangsa.

“Tren luar itu seru, iya. Tapi budaya kita jauh lebih keren. Tugas kita sekarang cuma satu mau jaga, atau biarkan hilang,” pungkasnya. (ika/dhi/c2/kin)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Unmuh Jember #Budaya #Gen Z #Nusantara