Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kiprah Emas 4 Siswa SMA Nuris Jember di Ajang FL2SN, Angkat Budaya Lokal lewat Puisi, Cerpen, dan Monolog

Mega Silvia RJ • Jumat, 20 Juni 2025 | 14:00 WIB
BERPRESTASI: Dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten, empat siswa SMA Nuris Jember berhasil memboyong pulang juara pada empat cabang lomba.
BERPRESTASI: Dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten, empat siswa SMA Nuris Jember berhasil memboyong pulang juara pada empat cabang lomba.

Radar Jember - Empat siswa SMA Nuris Jember berhasil memboyong gelar juara dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten pada empat cabang lomba.

Mereka adalah bukti bahwa santri juga melek literasi seni dan sastra.

Denting gamelan, larik puisi, dan suara yang menggema dalam satu panggung seni, itulah potret prestasi membanggakan yang ditorehkan oleh para siswa SMA Nuris Jember dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten.

Empat santri berhasil memborong gelar juara dari empat cabang lomba berbeda pada jang yang digeber pada Selasa (17/6).

Empat kategori lomba berhasil dimenangkan.

Juara 1 menulis cerpen oleh Fairus D. L. (XI IPS 2), juara 1 cipta puisi oleh Faniyati Wardhani (XI IPA 1), juara 1 jurnalistik oleh Aditya Ardiansyah (XI MIPA 3), serta juara harapan 2 monolog oleh Nadina Salsabila (X.1).

Keempatnya adalah wajah-wajah baru dari generasi santri kreatif yang membuktikan bahwa dunia pesantren tak hanya berkutat pada kitab.

Tapi, juga kaya imajinasi dan penuh talenta.

Aditya Ardiansyah, sang juara jurnalistik, mengangkat potensi lokal dalam berita feature berjudul “Menyingkap Arti Pendidikan di Denting Gamelan”.

“Inspirasi saya datang dari organisasi seni di sekolah, Nuris van Java. Saya merasa banyak yang lupa bahwa gamelan adalah jati diri kita,” tuturnya.

Dengan semangat dan riset lapangan yang tekun, Aditya membungkus data dan wawancara menjadi narasi yang menyentuh dan literatif.

Baginya dunia jurnalistik menyimpan banyak potensi ilmu yang bisa digali.

"Saya ingin menulis lebih banyak berita dan artikel juga membuat sebuah karya novel," ungkapnya.

Dari panggung sastra, Fairus D. L. tampil memikat juri lewat cerpennya yang menggali makna dari alat musik tradisional gondang atau glundengan asli Jember.

“Cerpen ini saya buat sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya Jember yang mulai dilupakan oleh generasi muda,” katanya.

Ide itu muncul ketika Fairus mengulik berbagai seni budaya lokal Jember.

Dia percaya bahwa ekspresi diri tak sekadar mengikuti tren, lebih dari itu.

"Tapi soal jiwa," tuturnya.

Sementara itu, Faniyati Wardhani, juara dalam cipta puisi, menulis dengan penuh kesadaran sosial.

Puisinya yang mengangkat tema ekspresi seni, inspirasi negeri.

Menggambarkan kegelisahan masyarakat yang abai terhadap seni tradisional.

“Saya ingin tulisan saya bukan sekadar tulisan, tapi pembelaan atas apa yang nyaris hilang,” ucapnya penuh semangat.

Santriwati SMA Nuris Jember itu tak ingin berhenti menulis.

Dia percaya, tulisan adalah jejak perjuangan.

Capaiannya hari ini, adalah buah dari perjuangan para guru juga tentornya.

"SMA Nuris sangat mendukung. Tentor kami luar biasa dalam membimbing dan memberikan semangat,” tutur Faniyati.

Di panggung monolog, Nadina Salsabila memerankan sosok Kinanti, seorang santri perempuan yang menghadapi tragedi keluarga.

"Saya sempat menangis sebelum tampil, mungkin karena itu saya bisa menjiwai Kinanti lebih dalam,” ungkapnya.

Dukungan penuh dari para guru dan pembina seni, hingga orang tua menjadi fondasi kuat di balik juara yang diraihnya.

Dalam pandangan para siswa, seni bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan ruang ekspresi jiwa, bentuk kepedulian, dan cerminan identitas bangsa.

"Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, Allah adalah perencana terbaik," jelasnya.

Keempat santri ini tidak hanya menunjukkan bakat, tetapi juga dedikasi tinggi dalam proses persiapan lomba.

Mereka menjalani pembinaan intensif, bahkan rela melepas sebagian waktu belajar demi mengasah karya.

Dengan semangat yang menyala, mereka memiliki mimpi besar, menerbitkan buku, membuat karya film, atau menjadi jurnalis profesional.

Lebih dari sekadar piala, kemenangan ini menjadi simbol tumbuhnya kesadaran baru dalam diri santri.

Mereka tak hanya belajar Fiqih dan Nahwu, tapi juga mendalami makna estetika, budaya, dan peran sosial melalui karya.

Inilah bukti bahwa pesantren bisa mencetak insan yang paripurna.

Ajang FL2SN kali ini bukan hanya tentang siapa yang menang. Ia menjadi panggung pembuktian bahwa santri bisa berkarya, bersuara, dan menginspirasi lewat seni.

SMA Nuris Jember, sekali lagi, membuktikan diri sebagai kawah candradimuka para santri berprestasi. (sil/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #santri berprestasi #nuris jember #FLS3N