Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rektor UIN KHAS Jember Sampaikan Pesan Mendalam saat Khutbah Idul Adha

Alvioniza • Jumat, 6 Juni 2025 | 17:14 WIB

KHUTBAH : Rektor UIN KHAS Jember Prof Hepni memberikan khutbah saat Salat Idul Adha di Polres Jember. (Humas UIN KHAS Jember)
KHUTBAH : Rektor UIN KHAS Jember Prof Hepni memberikan khutbah saat Salat Idul Adha di Polres Jember. (Humas UIN KHAS Jember)

Kita Tidak Butuh Idul Adha Seremonial, Kita Butuh Ibrahim Baru 

JEMBER, RADARJEMBER - Hari Raya Idul Adha dirayakan penuh suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia. 

Momentum Idhul Adha menjadi refleksi bagi umat muslim untuk belajar ikhlas berkorban dan meneladani kisah Nabi Ibrahim AS.

Profesor Hepni, Rektor UIN KHAS Jember menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya melahirkan sosok-sosok baru yang meneladani keteguhan iman dan pengorbanan keluarga Nabi Ibrahim AS.

Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail bukan sekadar cerita sejarah, melainkan teladan hidup yang harus diteladani umat Islam sepanjang masa.

“Ibadah haji dan qurban bukan hanya ritual, tapi napak tilas spiritual untuk meneladani totalitas cinta, ketundukan, dan pengorbanan mereka kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Hal ini disampaikan oleh Prof Hepni saat menjadi khatib Sholat Idul Adha di Polres Jember, Jum'at, 6 Juni 2025. Pagi tadi.

Ia mengutip firman Allah dalam QS. At-Takwir: _“Fa ayna tadzhabun?”_ (Maka ke mana kamu akan pergi?), yang dijawab oleh Ibrahim dalam QS. Ash-Shaffat: _Inni dzahibun ila Rabbi sayahdin”_ (Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku).

Khutbah yang sarat makna ini menyoroti bagaimana keluarga Ibrahim diuji di titik-titik paling genting: hijrah ke padang tandus, kehabisan bekal, kehausan bayi, hingga perintah menyembelih sang anak.

Namun mereka menjalaninya dengan sabar, tawakal, dan keyakinan yang kokoh, hingga Allah mengganti Ismail dengan seekor domba dan memancarkan air zam-zam dari tanah gersang.

“Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar adalah gambaran keluarga yang menempatkan kehendak Allah di atas segalanya. Ini bukan hanya soal iman, tapi implementasi total dalam hidup nyata. Hari ini kita rindu lahirnya kembali figur-figur seperti mereka,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hepni menekankan bahwa dalam kehidupan modern yang dipenuhi gemerlap kedudukan, kekuasaan, dan harta, umat Islam harus kembali bertanya: _ke mana kita akan pergi?_ Apakah semua yang kita perjuangkan hari ini bermuara kepada keridhaan Allah, atau hanya sebatas pencapaian duniawi?

“Jika kita ingin pertolongan Allah, maka serahkan semua urusan kepada-Nya. Yakinlah! Tanpa keyakinan, kepastian jadi kabur. Dan hanya dengan kesabaranlah ujian bisa dilalui,” katanya.

Seraya mengingatkan pentingnya sabar dalam tiga aspek: dalam musibah seperti Nabi Ayyub, dalam ketaatan seperti Nabi Ibrahim, dan dalam menolak maksiat seperti Nabi Yusuf.

Melalui momen Idul Adha ini, Hepni mengajak umat Islam untuk menjadikan Ibrahim sebagai cermin.

“Mari kita lahirkan kembali; Ibrahim-Ibrahim baru, Ismail-Ismail baru, dan Siti Hajar-Siti Hajar baru. Orang-orang yang rela melepaskan yang paling dicintai demi memenuhi kehendak Allah.”

Ia menutup ceramah dengan ayat Al-Qur’an QS. 9:100 sebagai pengingat bahwa ridha Allah adalah puncak keberhasilan sejati. “Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga”.

"Mari kita tempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Dari keteladanan Ibrahim, akan lahir generasi yang memancarkan zamzam-zamzam baru, mata air kehidupan yang membawa keberkahan bagi umat". Pungkasnya.

Editor : Alvioniza
#Idul Adha #khutbah #UIN KHAS Jember