Radar Jember – Di tengah lantunan ayat suci dan riuh aktivitas pesantren, seorang santri SMP Nuris, Muhammad Sofyan Mubarok, menyabet medali emas olimpiade matematika tingkat nasional.
Raihan prestasi itu didapat pada Kejuaraan Sains Pelajar Indonesia (KSPI) yang digelar oleh Puskanas pada 20 April lalu.
Sofyan dikenal sebagai santri yang tekun dan rendah hati.
Sejak duduk di bangku kelas lima SD, ia mulai menyukai matematika, terutama saat mempelajari materi bangun ruang.
“Saya suka matematika karena tidak banyak menghafal, tapi penuh logika dan tantangan,” ungkapnya.
Prestasinya tak datang secara instan.
Siswa kelas VIII itu aktif dalam ekstrakurikuler olimpiade matematika sejak kelas tujuh dan rajin mengikuti lomba tingkat kabupaten.
Dari pengalaman-pengalaman itu, Sofyan semakin percaya diri menembus persaingan di tingkat nasional.
Saat ini, Sofyan tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) bidang matematika.
Dia menargetkan bisa kembali membawa prestasi untuk sekolah dan pesantren.
Menurutnya, belajar adalah bagian dari ibadah jika diniatkan dengan benar.
Selain aktif di bidang akademik, Sofyan juga mengikuti kegiatan Pramuka di sekolah.
Ia mempelajari banyak hal seperti pionering, tali temali, sandi morse, semafor, hingga teknik reportase.
“Pramuka melatih kedisiplinan dan kekompakan,” katanya.
Di lingkungan pesantren, Sofyan juga tekun memperdalam ilmu agama.
Remaja 14 tahun itu belajar tajwid agar lebih fasih membaca Alquran dan mengkaji kitab kuning sebagai bagian dari kurikulum pondok.
Baginya, menjadi santri tidak menghalanginya untuk berprestasi di bidang umum.
Pihak sekolah menyambut prestasi ini dengan bangga dan haru.
Prestasi Sofyan di bidang matematika adalah bukti bahwa santri bisa bersaing di bidang sains nasional tanpa meninggalkan identitas keagamaannya. (sil/c2/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh