Radar Jember - Dari sudut pesantren yang tak pernah lelah mendidik akhlak dan ilmu, tiga santri SMA Nuris Jember menunjukkan bahwa mimpi besar bisa tumbuh di mana saja.
Mereka adalah M. Izzul Labib, Savira Putri, dan Fitrotun Nafisah, yang berhasil meraih juara dalam ajang olimpiade kimia nasional ATOMIC yang digelar Universitas Bojonegoro.
Menjadi ketua tim, M. Izzul Labib, mengemban tanggung jawab penuh dalam mengatur strategi tim.
“Saat lomba, saya bagi peran masing-masing. Siapa yang lebih kuat di topik tertentu, dia yang kerjakan. Kalau ada soal yang buntu, kami bahas bareng,” ujarnya.
Labib mulai menekuni kimia sejak pertengahan kelas X. Sebelumnya ia lebih fokus di matematika.
Namun, melihat nilai kimia yang mencolok, gurunya menyarankan masuk ekskul kimia.
“Ternyata setelah ikut, kimia jauh lebih seru. Bukan cuma soal hitungan, tapi banyak konsep menarik,” tutur remaja 17 tahun itu.
Di luar pelajaran umum, siswa kelas XI asal Rambipuji, Jember, itu bukan hanya unggul dalam kimia.
Namun, juga dikenal sebagai santri penghafal berbagai kitab klasik, seperti Fathul Qorib, Alfiyah, Maqshud, Imrithi, hingga Kailani.
Ia juga pernah meraih medali emas dalam olimpiade bahasa Arab tingkat nasional.
“Saya pegang pesan Ibnu ‘Athaillah, jangan harap jadi luar biasa kalau usahamu biasa saja. Itu juga yang sering ditekankan oleh pendiri pesantren kami, KH Muhyiddin Abdusshomad,” ucapnya penuh keyakinan.
Satu tim dengan Labib, Savira Putri, siswa kelas XI asal Muncar, Banyuwangi, menjadi salah satu penyumbang kekuatan utama pada soal-soal hitungan.
Baca Juga: Puncaki Podium dan Cetak Top Skor, Tim Futsal SMP Nuris Jember Juarai Porseni MKKS SMP Swasta
Semangatnya dalam belajar kimia berakar dari cita-citanya masuk fakultas kedokteran atau farmasi.
“Saya suka kimia karena makin susah, makin penasaran. Kalau sudah paham, rasanya puas banget,” ujar santri 17 tahun itu.
Sejak kelas X, Savira sudah aktif di ekskul kimia.
Ia percaya bahwa selain usaha dan latihan, mental positif sangat memengaruhi hasil lomba.
“Saya selalu tanamkan dalam pikiran kalau soal-soalnya mudah. Jadi waktu mengerjakan juga lebih tenang dan percaya diri,” tambahnya.
Sebelumnya, Savira juga telah meraih medali emas dalam olimpiade matematika nasional yang diadakan Puskasnas dan Puspresnas.
Sementara, yang tak kalah mencuri perhatian adalah Fitrotun Nafisah.
Satu-satunya anggota tim dari kelas X, Fitro, begitu ia disapa, harus mengejar banyak materi untuk bisa setara dengan dua rekannya yang lebih senior.
“Saya mendapatkan pendampingan khusus kimia. Awalnya bingung karena materinya banyak dan sulit. Tapi saya juga belajar sendiri, tanya mentor, dan cari referensi dari internet,” ungkapnya.
Meski baru kelas sepuluh, Fitro membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk berprestasi.
Ia mengaku paling menikmati materi stoikiometri.
“Waktu SMP saya lebih suka biologi, tapi masuk SMA, ibu saya bilang coba fokus kimia. Awalnya berat, tapi sekarang malah jadi suka,” katanya.
Mengikuti olimpiade ini adalah pengalaman lomba pertamanya dan langsung berbuah manis dengan membawa pulang piala nasional.
Kini santri asal Kabat, Banyuwangi, itu juga mulai menikmati prosesnya belajar di ekstrakurikuler kimia.
Perjalanan mereka dimulai dari babak penyisihan online dengan 50 soal pilihan ganda.
Dari ratusan peserta se-Indonesia, hanya 25 tim terbaik yang lolos ke babak final di Bojonegoro.
Di sana, mereka menghadapi puluhan soal esai kimia yang membutuhkan pemahaman mendalam dan kerja sama tim yang solid.
Ketiganya mengaku terbantu oleh kegiatan ekskul kimia yang rutin digelar sekolah.
Dari situlah mereka terbiasa berdiskusi, belajar materi secara sistematis, dan mengasah logika kimia.
Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka bersatu dalam semangat belajar dan keyakinan.
Kini, Labib, Savira, dan Fitro tengah bersiap untuk tantangan berikutnya.
Yaitu Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) yang akan digelar bulan depan.
Mereka berharap bisa mengulang bahkan melampaui prestasi sebelumnya.
“Kami percaya, kalau sudah usaha dan doa, hasilnya pasti Allah yang atur,” tutup Fitro.
Dari ruang-ruang belajar sederhana di Pesantren Nuris tersebut, tiga santri ini membuktikan bahwa semangat, ilmu, dan keyakinan bisa membawa cahaya prestasi menembus batas-batas daerah. (sil/c2/dwi)
Baca Juga: Lagi! Prestasi Gemilang Santri SMA Nuris Jember, Tembus Juara Nasional berkat Speech Tajam
Editor : Imron Hidayatullahh