Radar Jember - Ibadah terasa hampa tanpa memahami makna di baliknya.
Itu menjadi landasan bagi Muhammad Alif Hidayah, santri MTs Unggulan Nuris Jember, mempelajari kitab Fathul Qorib.
Dalam perjalanan pembelajarannya, Alif juga telah membuktikan bahwa kitab fiqih yang ditekuninya itu juga bisa berbuah prestasi.
Belum lama ini, juara satu lomba musabaqah qiraatul kutub (MQK) tingkat nasional diraihnya di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep.
Bersaing dengan lima finalis dari berbagai daerah yang lolos, Alif unggul hingga akhir kompetisi.
Murod atau interpretasi isi dalam kitab fiqih dipaparkannya dengan cukup lugas di depan juri.
Pertanyaan tentang nahwu shorof pun dapat dilaluinya dengan baik.
"Berkat prestasi yang saya raih itu saya mendapatkan beasiswa platinum dari MA Unggulan Nuris nantinya," ungkap Alif.
Orang tuanya begitu bangga mendengar kabar kemenangannya.
Sebab, sebelumnya Alif belum pernah mengikuti lomba.
Namun, berkat bimbingan ustad di pesantren dan ekstrakurikuler jurumiah di MTs Unggulan Nuris, skill-nya semakin melesat.
Santri kelas sembilan MTs Unggulan Nuris itu memang sangat antusias belajar kitab Fathul Qorib.
Selain Alquran, dia percaya bahwa dalam memahami dan mempraktikkan ibadah sehari-hari juga butuh telaah.
Sebab, habluminallah (hubungan dengan Allah) dan habluminannas (dengan manusia) sudah diatur dengan terperinci dalam Islam.
"Dengan belajar kitab saya jadi tahu makna di balik ibadah sehari-hari," ujar remaja 15 tahun itu.
Dengan mengetahui maknanya, Alif mengaku lebih nikmat beribadah.
Tak asal mengerjakan dan menggugurkan kewajiban atau sekadar bermuamalah.
"KH Muhyiddin Abdusshomad, pengasuh pesantren Nuris, adalah panutan saya," ungkap remaja asal Desa Klanceng, Kecamatan Ajung, itu.
Alif selalu ingat pesan yang disampaikannya.
Bahwa belajar hanya karena Allah.
Lantas, rida guru adalah gerbang menuju ilmu yang bermanfaat.
"Kiai sering pesankan itu," katanya.
Sejak kelas sembilan, Alif memang sudah nonaktif pada ekstrakurikuler.
Selain sekolah dan mengikuti agenda diniyah, dia kini turut melakukan pendampingan mengaji di pesantren.
Selain kitab Fathul Qorib, Alif juga tengah mempelajari kitab-kitab lainnya seperti tauhid dan tasawuf.
Di samping dia juga telah menghafal kitab Alifiyah dan Imrithi.
Kelak, dia sangat ingin melanjutkan kuliah di Mesir atau Yaman. (ika/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh