BONDOWOSO, Radar Ijen - Hari asma sedunia diperingati pada hari selasa pertama bulan mei. Tahun ini bertepatan pada tanggal 6 Mei 2025.
Asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan yang ditandai oleh peradangan dan penyempitan saluran napas.
Pada penderita asma, saluran napas menjadi sensitif terhadap berbagai rangsangan seperti alergen, udara dingin, polusi udara, atau aktivitas fisik.
Direktur Rumah Sakit dr H Koesnadi (RSDK) Bondowoso, dr Yus Priyatna A SpP FISR mengatakan bahwa penderita asma kebanyakan disebabkan oleh faktor genetik.
"Penyebab utamanya genetik. Biasanya dipicu oleh faktor lingkungan, saluran napas, dan lainnya," kata dokter Yus, kamis (15/5).
Pemicu asma atau alergen lingkungan yang umum terjadi bisa dari serbuk sari, bulu binatang, polusi udara maupun bahan kimia tertentu.
"Gaya hidup, tempat yang berdebu, maupun udara dingin juga bisa jadi pemicu bagi orang yang secara genetik memiliki asma," ungkap dokter spesialis paru tersebut.
Asma ditandai dengan sesak napas yang disertai suara mengi atau bersiul. Hal ini karena penyempitan saluran pernapasan.
Dokter Yus juga mengungkapkan bahwa asma ini berbeda dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang biasanya menimpa pada seorang perokok.
"Asma ini bisa kembali ke kondisi normal dengan obat-obatan sesuai dengan saran dokter. Berbeda dengan PPOK yang biasanya terjadi pada perokok, itu tidak bisa kembali normal," ungkapnya.
Mencegah kambuhnya asma bisa dengan mengidentifikasi dan menghindari pemicunya, menerapkan gaya hidup sehat dan mengelola stres.
"Jadi memang tidak bisa dihilangkan, tapi bisa dikendalikan. Yang kita nilai dari pengobatan asma adalah faktor terkendali atau tidaknya. Misal awalnya dulu setiap minggu sesak napas, dengan terkendali mungkin jadi satu bulan sekali, kemudian semakin jarang. Nah, yang paling bagus adalah terkendali penuh itu sampai satu tahun dia tidak kambuh lagi," papar dr Yus.
Dia menjelaskan bahwa asma ini karena alergi, bukan virus sehingga tidak menular.
Jika kambuh, penanganan pertama dengan dibuat posisi duduk dan hindari posisi tidur.
Untuk layanan kesehatan penyakit asma yang ada di RSUD dr H Koesnadi Bondowoso ada dua, yaitu Poli Paru yang merupakan pelayanan rawat jalan.
Poli ini buka setiap hari Senin sampai dengan Jum’at. Kemudian yang kedua ada Paviliun Krisan.
"Ini merupakan paviliun rawat inap khusus bagi pasien penderita penyakit paru seperti asma, TBC dan lain-lain," pungkasnya.
RSUD dr H Koesnadi juga memiliki dua dokter spesialis paru, yaitu dr Yus Priyatna A SpP FISR dan dr Diana Purnamasari SpP. Pelayanan penyakit paru di RSUD dr H Koesnadi Bondowoso dapat menggunakan BPJS maupun Umum. (ika/bud)
Editor : M. Ainul Budi