SUMBERSARI, Radar Jember - Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyampaikan orasi ilmiahnya dalam acara Milad Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, yang berlangsung di aula Ahmad Zaenuri, Sabtu, (12/4).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut mengupas sejarah perjuangan Muhammadiyah di bidang pendidikan serta tantangan yang dihadapi perguruan tinggi Muhammadiyah di masa depan.
Prof Muhadjir menceritakan bagaimana pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, melakukan pendekatan kooperatif dengan Belanda pada masa penjajahan.
Saat itu, Ahmad Dahlan mendekati kepala sekolah Belanda.
Bahkan mendaftar menjadi guru di sana. Langkah ini sempat dianggap sebagai pengkhianatan oleh masyarakat sekitar yang mengira ia bergabung dengan penjajah.
Dia menjelaskan, berkat pendekatan tersebut, Muhammadiyah mampu membangun ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), serta ribuan sekolah dari tingkat SD hingga SMA di seluruh Indonesia.
"Dulu dicaci maki karena berangkulan dengan Belanda, dan sekarang terbukti siapa yang benar ijtihadnya sampai saat ini. Sementara yang lain masih percaya dengan air yang didoakan, dukun, dan lainnya" tegasnya.
Prof Muhadjir juga membandingkan sistem pendidikan tinggi di Indonesia dengan negara Barat. Menurutnya, universitas-universitas terkemuka di Barat justru didominasi oleh swasta, bukan negeri.
"Di Indonesia pun harus begitu. Masa depan bangsa ini ada di tangan perguruan tinggi swasta (PTS), karena PTN sangat bergantung pada APBN. Sementara, PTS bisa lebih gesit dalam bereksperimen dan berakselerasi," ujarnya.
Meski optimistis dengan perkembangan PTMA, Prof Muhadjir mengingatkan agar nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan tidak tergerus.
Dia mencontohkan banyak universitas di Barat yang awalnya didirikan organisasi keagamaan.
Namun, lambat laun kehilangan identitas religiusnya setelah diambil alih pengusaha karena masalah finansial lembaga keagamaan di sana.
"Hal ini bisa terjadi jika Muhammadiyah tidak memiliki basis ekonomi yang kuat," jelasnya.
Dia juga menyoroti rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM), terutama di Kabupaten Jember, yaitu sekitar 70,93 persen dan menegaskan bahwa Unmuh Jember memiliki peran strategis dalam memperbaikinya.
"Rendahnya IPM di Jember ini, Unmuh Jember harus bertanggung jawab untuk meningkatkannya," ungkapnya.
Melihat perkembangan yang dialami oleh Unmuh Jember, Prof Mujadjir menyebut sampai saat ini menunjukkan progres yang baik untuk bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.
"Saya melihat penerus di Unmuh Jember ini sudah berada dalam track yang benar dan saya yakin akan semakin maju," tutupnya. (ika/dhi/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi