Selain terkenal dengan bentangan alam yang masih asri, Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, juga menyimpan jejak sejarah yang begitu kaya. Ini ceritanya.
YULIO FARUQ AKHAMDI,
BADEAN - Radar Jember
BERBAGAI peninggalan sejarah ditemukan di kawasan ini. Kendati demikian, banyak potongan sejarah yang masih menjadi misteri. Tim peneliti bersama akademisi dari UIN KHAS Jember dan arkeolog terus menggali fakta. Berharap dapat menyusun kembali kepingan sejarah yang tersebar.
Inilah Desa Badean di Kecamatan Bangsalsari, yang memiliki serpihan peninggalan sejarah. Selama ini belum banyak terpublikasikan. Pembina Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon Jergian Jodi bersama tim akademisi dan peneliti lintas disiplin tengah mendalami peninggalan sejarah yang selama ini belum banyak terpublikasikan. Dalam penelitian itu, ditemukan berbagai benda arkeologi yang kemudian diklasifikasikan dalam tiga periode besar. Yaitu masa klasik, kolonial, dan pasca-kolonial. Hasil riset tersebut dibahas dalam forum diskusi kelompok (FGD) yang berlangsung kemarin (12/2).
Penelitian telah berlangsung lebih dari satu tahun, dan telah mengungkap banyak artefak bersejarah. Di antaranya struktur batu bata merah yang memiliki corak menyerupai pecahan bata candi, umpak, menhir, serta pecahan gerabah. Keberagaman temuan itu menjadi bukti jejak sejarah yang tersembunyi di Desa Badean. “Penelitian ini tentu tidak serampangan. Kami mendapat pendampingan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jember serta Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Timur. Selain itu, arkeolog, Ismail Lutfi, turut serta dalam eksplorasi lapangan,” jelas Jergian.
Sementara itu, Agus Santoso, anggota Yayasan Murtasion yang turut melakukan penelitian, menjelaskan bahwa sejarah Badean diklasifikasikan dalam tiga tahapan utama. Masa klasik, masa kolonial, dan masa kemerdekaan. Pada masa kolonial, perkembangan Badean selaras dengan ekspansi perkebunan di Jember. Salah satu peninggalan dari era ini adalah sisa-sisa bangunan kolonial seperti rumah dan pabrik yang hingga kini masih beroperasi. “Misalnya di Perkebunan Widodaren,” sebutnya.
Meski demikian, asal-usul nama "Badean" masih menjadi misteri, karena belum ditemukan data yang mendukung. Peneliti mengandalkan sumber dari surat kabar dan catatan kolonial Belanda serta kajian arkeologi untuk menggali lebih dalam sejarah kawasan ini. Perbandingan antara data dari Belanda dan temuan di lapangan masih terus dilakukan. “Meski belum semuanya sesuai, namun temuan-temuan ini justru membuka kemungkinan baru dalam kajian sejarah Badean,” sebut Agus.
Kepala Desa Badean Purnanto menjelaskan, FGD yang digelar untuk memaparkan hasil penelitian itu melibatkan berbagai pihak, termasuk Muspika Bangsalsari, mahasiswa, serta akademisi. Tujuannya agar masyarakat lebih mengenal warisan budaya dan sejarah. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan masyarakat dapat menjaga dan melestarikan warisan sejarah ini.
Purnanto menambahkan, pihaknya berharap Jember menjadi pusat riset peninggalan jejak arkeologis yang belum terdata. Dikatakan, sinergi antara masyarakat, akademisi, dan pemerintah diperlukan untuk memastikan penelitian ini berlanjut dengan metodologi yang tepat.
“Ke depannya, hasil riset ini juga akan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai referensi sejarah yang lebih komprehensif. Kemudian, kami ingin punya wisata alam, budaya dan sejarah,” tambahnya.
Pihaknya juga berharap nantinya Desa Badean menjadi pusat studi dan informasi sisi selatan Gunung Hyang yang menyimpan peninggalan jejak sejarah. (ika/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi