Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perempuan Kebayak’an Jember Gelar Gebyar Kebaya Kenalkan Kebaya Labuh dan Kerancang

Alvioniza • Senin, 3 Februari 2025 | 14:05 WIB

 

Photo
Photo

JEMBER, RADARJEMBER - Indonesia dikenal dengan keberagaman budaya, adat dan bahasanya. Negeri yang membentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki sebanyak 1.340 suku bangsa.

Sebagai pembeda, tiap suku memiliki ciri khas masing-masing yang mewakili keotentikan daerah tersebut misalnya pakaian adat.

Baju kebaya diresmikan menjadi baju khas nasional yang identik dengan wanita nusantara. Perpaduan kain batik, desain, dan motif tertentu memberikan aura elegan dan wibawa seorang wanita. Lantas, bagaimana perjalan kebaya Indonesia hingga diakui UNESCO?

Perempuan Kebayak'an Jember menggelar Gebyar Kebaya mengenalkan kebaya labuh dan kerancang sebagai busana kebaya yang diakui oleh UNESCO, Minggu (2/2).

Dalam acara tersebut ratusan perempuan tampak anggun mengenakan kebaya labuh dan kerancang. 

Photo
Photo

Kebaya diputuskan untuk menjadi busana nasional Indonesia pada Lokakarya tahun 1978 di Jakarta. Kebaya dinilai cocok untuk mencerminkan semangat kebangsaan serta simbol feminisme perempuan Indonesia.

Ketua Komunitas Kebayak’an Nanik Indra mengatakan perempuan Jember siap untuk terus memperjuangkan kebaya Indonesia. Kebaya merupakan pakaian khas perempuan Indonesia yang harus terus dilestarikan.

“Harapannya ingin kebaya ini lebih dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat tidak hanya kami ibu-ibu penggiat tetapi anak-anak sekolah sd, smp, sma kalo bisa satu hari dalam sekolah mengenakan kebaya untuk mengenalkan kebaya dan menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya,” ujarnya.

Sementara iu Humas Komunitas Kebayak'an Jember Nunung Nuring Hayati mengatakan para Perempuan Kebayak’an merupakan ikon dan talent untuk mengenalkan kebaya.

 “Seperti saya yang menjadi dosen mengajak murid atau orang disekitar saya untuk berkebaya, jadi vibe positif ini cepat menyebar, bahwa baju ini adalah baju milik kita,” katanya.

Photo
Photo

Menurutnya perjuangan Perempuan Kebayak’an masih panjang untuk menjadi kebaya sebagai busana nasional yang diakui oleh dunia. Sebab masih ada banyak jenis dan motif kebaya yang dimiliki Indonesia. 

Kebaya labuh dan kebaya kerancang telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO yang diumumkan pada sidang ke-19 Komite untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda UNESCO di Asunción, Paraguay, 4 Desember 2024 lalu.

Jenis kebaya tersebut bahkan diajukan sebagai Single Nomination dalam pengajuan bersama oleh lima negara ASEAN yakni Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Kebaya labuh merupakan pakaian adat tradisional perempuan Melayu asal Riau. Sekilas kebaya labuh sama dengan model kebaya pada umumnya, akan tetapi memiliki ukuran yang lebih panjang hingga lutut.

Kebaya ini memiliki konsep serupa dengan baju kurung. Bedanya, bagian depan kebaya labuh berbentuk A dengan potongan yang mengerucut ke atas memberi kesan terlihat lebih terbuka dan melebar.

Photo
Photo

Kebaya labuh terbuat dari kain tenun khas Riau dan terdiri dari kain serta selendang. Panjang lengan baju sekitar dua jari dari pergelangan tangan, dan lebarnya sekitar tiga jari dari permukaan lengan, agar gelang yang dikenakan perempuan bisa terlihat. Kedalaman baju bervariasi, dari atas betis hingga sedikit ke atas.

Kebaya kerancang atau lebih dikenal dengan nama lain kebaya Encim menemani kebaya labuh dalam peresmian oleh UNESCO. Jenis baju adat asal budaya Betawi ini hadir dengan gabungan budaya Melayu, Belanda, dan Tionghoa. 

Kata “encim” berasal dari bahasa Hokkien yang berarti “bibi”, sebutan ini dipilih karena secara histori kebaya digunakan oleh perempuan golongan menengah atas. Disertai motif bordir berupa flora atau fauna dengan bordiran yang berlubang, kebaya ini juga disebut dengan “kerancang” yang berarti berlubang dalam bahasa Sanskerta.

Editor : Alvioniza
#kebaya #Perempuan #UNESCO