Melihat Agenda Love for Charity Ke-6 Happy Moms Jember
Sunatan Masal Anak Yatim dan Duafa
Banyak cara yang dapat dilakukan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak yatim dan duafa. Termasuk khitanan masal, seperti yang dilakukan oleh Happy Moms Jember, Minggu (8/12) lalu. Mereka juga memberikan santunan. Seperti apa kegiatannya?
ILHAM WAHYUDI, Sumbersari - Radar Jember
PERASAAN senang dan sedih bercampur menjadi satu. Hal tersebut terlihat dari wajah ratusan anak yatim dan duafa yang akan mengikuti sunatan masal dalam rangka Love for Charity (LFC) ke-6. Kegiatan itu diinisiasi oleh Happy Moms Jember, yang mengajak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember (Unej) untuk bekerja sama.
Ada 30 dokter spesialis dari Fakultas Kedokteran Unej yang membantu proses khitan 110 anak tersebut. Sebelum disunat, Happy Moms memberikan pakaian kepada mereka untuk digunakan. Tidak hanya itu, komunitas sosial ibu-ibu itu juga memberikan bingkisan dan uang tunai, termasuk memberikan fasilitas photo booth sebagai kenang-kenangan.
Ketua Panitia LFC 6, Niken Setiorini, menyampaikan, ada 110 anak yang mengikuti khitan masal itu. Mereka berasal dari berbagai kecamatan, termasuk Semboro dan Sumbersari. Kegiatan itu ternyata mendapat banyak tanggapan positif. Buktinya, dua hari pendaftaran dibuka, kuota sudah penuh. Namun, untuk kuota pastinya butuh satu pekan. “Lihat mereka senang, Happy Moms Tambah Bahagia,” katanya.
Happy Moms yang beranggotakan 27 orang itu diwajibkan membawa satu orang anak yatim dan duafa yang akan dikhitan. Diutamakan bagi anak yang berada di sekitar mereka. Khitan masal kali ini merupakan kegiatan yang sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali. Bekerja sama dengan berbagai instansi berbeda-beda. “Setiap love for charity kami melibatkan pihak luar. Ada donatur dari rekan-rekan kerja anggota Happy Moms,” jelasnya.
Ketua Happy Moms Jember Melany Handoyo menjelaskan, komunitas ibu-ibu tersebut dari awal dibentuk untuk kegiatan sosial. Dengan moto from mom for humanity. Oleh sebab itu, kegiatan yang mereka lakukan selalu bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Komunitas ini sudah berdiri sejak 13 tahun, tepatnya pada 2011 silam.
Mereka memiliki berbagai kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun. Salah satunya bakti sosial berupa santunan anak yatim pada Ramadan dan Muharam. Tidak hanya itu, Happy Moms juga tak jarang ikut membantu korban bencana alam. “Yang wajib dua kegiatan, kemudian sisanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terkait khitan masal, dia menjelaskan, kegiatan itu masuk dalam rangkaian LFC. Awalnya, kegiatan akbar itu dilaksanakan setiap tahun. Namun, pascapandemi Covid-19, dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Dengan berbagai pertimbangan, termasuk anggaran yang diperoleh dari para donatur dan anggota Happy Moms.
Khitan masal yang diadakan oleh Happy Moms cukup berbeda. Mereka tidak hanya menyediakan fasilitas khitan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional. Melainkan juga memberikan pakaian, bingkisan, santunan, dan fasilitas photo booth. “Kami hanya ingin berbagi manfaat dengan orang sekitar. Kenapa khitan masal, karena melihat masih banyak keluarga yang belum mampu mengkhitankan anak-anak mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Penasihat Happy Moms Jember Deby Dizarty menyampaikan, komunitas ibu-ibu itu dibentuk pada 2011 lalu. Berawal dari keinginan bersama untuk membuat komunitas yang bermanfaat untuk sekitarnya. Dalam komunitas itu, mereka dapat melakukan kegiatan sosial, serta memberikan contoh kepada anak-anaknya. “Pertama kali yang kami lakukan waktu itu ngumpulin buku bekas dan dibagikan,” ucapnya.
Setelah beberapa tahun berjalan, Happy Moms mulai merasa perlu meningkatkan jangkauan kegiatan sosial yang mereka lakukan. Hingga tercetus LFC, dana dari donatur digunakan untuk membuat acara besar. Dengan harapan apa yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat lebih luas. “Kami itu bahagia karena berbagi dengan orang banyak,” tegasnya.
Anggota Happy Moms, menurutnya, tidak hanya menjadi pengikut. Mereka juga diberikan kesempatan yang sama untuk berperan. Salah satu contohnya, setiap kegiatan orang yang menjadi ketua panitia pasti berbeda-beda. “Setiap ibu harus bisa. Alhamdulillah, semua kegiatan yang kami jalankan, lancar sejauh ini,” pungkasnya. (ika/ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital