GAGASAN akan selalu ditemukan dalam ruang-ruang percakapan yang hangat dan bertemu padan. Tidak berusaha menjadi siapa-siapa tanpa berupaya unggul dengan tutur kata yang setara. Lebih-lebih menempatkan posisi sebagai pendengar yang menawarkan diri menjadi pribadi seorang teman. Situasi ini sering tertangkap dari perilaku politik Hendy Siswanto yang sejak dulu memang cenderung apa adanya.
Mengubah tradisi rupa birokrasi pejabat daerah yang acapkali berada di menara gading dan jauh dari publik. Hendy justru kebalikannya. Dia adalah pejabat yang terbuka dan senang berdiskusi.
Kata Hendy, dia akan selalu senang berada di dalam suasana dialektis untuk saling mendengar dan saling berbicara. Sebab, ada banyak hal dan persoalan yang kemudian bisa digali, dimaklumi, kemudian dimengerti—dibanding bercakap secara maya lewat akun media sosial.
“Media sosial tentu punya fungsi yang baik untuk saling memberi atensi dari informasi yang mungkin belum dijangkau oleh pertemuan,” kata Hendy yang mengelola dan membalas sendiri seluruh pesan berjumlah ratusan yang diterima setiap hari dari puluhan ribu followers-nya itu.
“Tapi, kalau ditanya mana yang lebih seru, ya bertemu langsung seperti ini yang paling seru,” katanya di sela agenda turba di Kecamatan Silo, akhir Oktober 2024 lalu.
Jadi bentuk menarik, caranya menyapa rakyat sekaligus kampanye yang dikemas dengan model bertamu ke rumah-rumah warga. Hendy Siswanto melakukan kegiatan bertajuk 1 HBW (1 Hari Bersama Warga), yang punya maksud menyerap langsung keluhan dan aspirasi warga yang mungkin belum mendapatkan kesempatan bertemu dengannya.
Benar saja, Hendy mengaku banyak mendapat sudut pandang baru dari orang-orang yang ditemuinya itu. Terlepas dari tujuan kampanyenya bersama Gus Firjaun untuk melanjutkan program pembangunan lima tahun mendatang, bertemu dengan masyarakat yang selama ini memiliki pengalaman beragam dari dampak kebijakannya 3,5 tahun memimpin kemarin, agaknya memberi Hendy banyak catatan untuk dilakukannya ke depan.
Silaturahmi di Silo
MINGGU, tanggal 27 Oktober 2024, di Kecamatan Silo, Hendy bersama istrinya, Kasih Fajarini, mengunjungi basis-basis pendukungnya yang tersebar hampir di seluruh desa. Mulai dari bertemu tokoh masyarakat di Garahan sampai memenuhi undangan di Dusun Curahmanis, Desa Sidomulyo. Berlanjut kegiatan ke Desa Harjomulyo untuk menonton pertandingan voli persahabatan antarwarga.
Malamnya, Hendy diundang pemuda dari seluruh desa di Kecamatan Silo untuk berdiskusi di Cafe Bung Karjo di Desa Karangharjo.
Dimoderatori Samsul Hadi Saputra, pendiri sekaligus pembina PKBM Rumah Pintar, Hendy berdialog seputar permasalahan masyarakat di Silo. Banyak isu dibahas, mulai dari penolakan tambang yang menjadi komitmen Hendy dan Gus Firjaun, sampai persoalan peran pemuda desa yang masih minim akses dukungan.
Samsul, merespons positif sikap Hendy yang sangat terbuka menerima masukan dan kritik dari orang-orang.
“Pak Hendy orang yang sportif. Dia menjawab semua aspirasi dengan respons yang tidak menghakimi. Kami justru banyak mendapat masukan langkah-langkah yang tepat agar akses dukungan dari pemerintah bisa benar-benar sampai ke bawah,” katanya.
Selama di Silo, Hendy juga melakukan peletakan batu pertama Masjid Al-Hidayah, Kiai Sofyan Saori, PP Al-Mizan, Desa Silo. Kemudian, silaturahmi bersama KH Jauhari, PP Nurul Ulum Desa Pace. Silaturahmi bersama KH Imamulkhoir Ibrohim, PP Manbaul ulum 1 - Karang Tengah, Pace. Silaturahmi bersama KH Nurkholis Anwar, PP Khoirul Anwar, Karang Tengah, Pace. Silaturahmi bersama KH Hodri Ariev MA, PP Bahrul ulum, Desa Karangharjo.
Silaturahmi dan salat Asar di Masjid. Silaturahmi bersama KH Shihabuddin Athoilah, PP Al-hidayah, Karangharjo. Silaturahmi bersama Drs KH Abdul Muqiet Arif, PP Al-Falah, Desa Karangharjo. Silaturahmi bersama Kiai Mahmud, Desa Harjomulyo. Silaturahmi bersama Kiai Wahdi Bakri, YPI Miftahul Falah, Desa Harjomulyo. Silaturahmi bersama Kiai Nuris, Desa Silo. Kemudian, Silaturahmi bersama salat Magrib, dan silaturahmi dengan Kiai Farhan Al Amin, Desa Silo.
Malam itu, Hendy tidak langsung pulang. Melainkan, lanjut menginap di rumah Haji Hadi warga Desa Pace. Hendy memberi kesempatan kepada warga untuk nimbrung dalam suasana malam yang akrab.
“Senang bisa di-sambati langsung oleh warga. Jadi, saya tahu apa-apa yang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kebanyakan memang soal berurusan dengan oknum yang ruwet di bidang pelayanan. Semua itu jadi catatan bagi kami pada pemerintahan yang akan datang,” katanya.
Esoknya, Senin, 28 Oktober 2024, kegiatan berlanjut dengan serangkaian acara untuk memenuhi undangan dari relawan, warga, dan tokoh masyarakat. Mulai dari mengunjungi pasar di Sempolan, undangan senam pagi bersama warga di Desa Silo, sekaligus membagikan sarapan gratis dan membuka pasar murah yang menyediakan ratusan paket beras murah seharga 20 ribu rupiah untuk satu kantong 2,5 kilogram.
Menjelang siang, sebelum sowan kunjungan ke tokoh ulama dan para kiai pengasuh pondok pesantren, Hendy bertemu warga di Desa Mulyorejo.
Tepatnya di lingkungan Baban Barat dan Baban Timur yang konon paling besar menjadi basis pendukung Hendy Siswanto. Warga Baban memang merasakan dampak kebijakan infrastruktur yang selama puluhan tahun belum pernah diperbaiki dan baru di era Hendy akses jalan diaspal.
Cerita menarik dari kunjungan di Mulyorejo adalah pengakuan dari Nurul Hakim, warga setempat, yang senang sebab jalan di desanya sudah diaspal. Dulu, sebelum jalan diperbaiki, harga kebutuhan pokok dan barang-barang cukup tinggi dibanding dengan desa-desa lainnya. Akses yang sulit membuat ongkos distribusi barang juga ikut naik berkali-kali lipat. “Warga Mulyorejo sekarang bersyukur, karena harga barang-barang termasuk kebutuhan pokok tidak terlalu tinggi sekarang. Beda dengan ketika jalan belum diaspal,” katanya.
Acara di Silo berakhir dengan mengunjungi pasar malam yang dibikin relawan di lapangan Desa Pace. Diisi oleh orkes dangdut lokal, warga Pace dan sekitarnya dimanjakan dengan wahana mobil kereta gratis dan kopi gratis. Di sana, Hendy juga mendengar aspirasi dan memberi masukan kepada para pedagang UMKM.
Kegiatan di Puger
MELOMPAT sepekan berikutnya, Senin, 4 November 2024, pagi belum juga datang, lindap bersemayam di langit Pantai Puger menjelang kumandang azan Subuh. Hendy Siswanto didampingi Kasih Fajarini dan rombongan tiba di Musala Nurul Hikmah di Desa Puger Kulon, bersamaan dengan bermulanya aktivitas warga sekitar yang rata-rata nelayan itu.
Hari itu adalah dimulainya agenda 1 Hari Bersama Warga di Kecamatan Puger. Sejumlah agenda untuk memenuhi undangan dari relawan, warga, dan tokoh masyarakat telah disiapkan. Hendy bilang, ada banyak undangan dari basis pendukungnya.
Namun, Hendy dan Gus Firjaun sepakat untuk perlu mematuhi aturan zona kampanye yang ditetapkan oleh KPUD Jember.
“Sebisa mungkin, jika tidak berjauhan, permintaan undangan dari basis pendukung kami jadikan di satu tempat, supaya bisa dapat semua,” kata Hendy.
Usai salat Subuh berjamaah, rombongan beranjak ke kediaman Ustad Fauzi di samping musala. Hendy dan Kasih Fajarini disambut jemaah ibu-ibu untuk bertegur sapa, bersilaturahmi. Bercakap seputar kondisi dan situasi sosial di Puger yang serba-dinamis, para ibu-ibu ini berharap Hendy dan Gus Firjaun kembali memimpin Jember. Sebab, hasil-hasil kebijakan berdampak betul kepada masyarakat.
Usai dari kediaman Ustad Fauzi, Hendy melanjutkan kunjungan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger dengan berjalan kaki.
Sebelumnya, Hendy sempat mampir ke warung sego iwak milik Ibu Um. Kuliner unik ini menunya khas. Ikan tongkol masak santan bumbu merah disajikan dengan taburan serundeng kelapa bakar. Ada tambahan mi kuning disiram sambal terasi di atas nasi hangat. Sementara, Hendy mengajak warga sekitar untuk ikut sarapan bareng, Kasih Fajarini tampak sibuk melayani para pembeli yang berjubel.
Agenda berlanjut di TPI dan Pasar Puger Wetan untuk belanja dan menyapa para pedagang sebelum beranjak ke kediaman Haji Rohim, tuan rumah yang ketempatan inap di Desa Puger Kulon. Mengisi kegiatan dengan mengundang warga sekitar dan masak besar untuk santap siang bersama. Di sini juga diskusi dan mendengar aspirasi warga.
Termasuk di antaranya para nelayan yang secara khusus kemudian berkumpul di kediaman Haji Jen, salah satu tokoh nelayan Puger yang menjadi basis pendukung utama Hendy sejak periode lalu. Ada seratusan nelayan membabahas masalah plawangan, tempat keluar masuknya kapal nelayan. Hendy meminta para nelayan menilai secara cermat bahwa pemerintahan yang dijalankannya kemarin sudah maksimal melakukan upaya komunikasi dengan pemerintah pusat dan provinsi terkait kebutuhan breakwater di plawangan yang selama ini banyak menyusahkan nelayan saat melaut.
“Tiga setengah tahun kami memimpin, dipotong masa Covid-19 jadi efektif dua tahun kami harus mengelola anggaran untuk membayar utang daerah dan memperbaiki sarana infrastruktur yang rusak parah. Jadi, saya harap periode ke depan ini, mari kita kawal bersama agar masalah di plawangan mendapat solusi permanen. Bukan sekadar menganulir sedimen pasir yang sifatnya hanya sementara,” katanya.
Lain soal nelayan, di Puger, Hendy juga bertemu para petani di Desa Wonosari. Kurang lebih enam ratus petani beragam komoditas berkumpul di kediaman Wasir, tokoh petani setempat yang secara khusus mengapresiasi kebijakan Hendy terkait pertanian selama memimpin kemarin. Senada juga disampaikan oleh Sucipto, tokoh petani yang menyampaikan tuntutan petani. Bagaimana supaya produk mereka bisa mendapat jaminan pasar yang jelas serta adanya keterlibatan kelompok tani yang efektif. “Hari ini kami bersyukur Pak Hendy bisa datang memenuhi undangan kami sekaligus menandatangani kontrak politik dengan para petani Jember,” katanya. (ika/c2/nur)
Merawat Sangka Baik
KEGIATAN 1 Hari Bersama Warga di Silo dan Puger menjadi refleksi betapa besarnya dukungan para tokoh ulama dan tokoh masyarakat terhadap kepemimpinan Hendy Siswanto–Gus Firjaun. Lebih memilih bertamu dan bertemu warga dengan tujuan merawat sangka baik, ketimbang memobilisasi kampanye akbar adalah bentuk komitmennya untuk tidak merepotkan rakyat.
Seluruh rangkaian acara yang diselenggarakan oleh para relawan mulai dari event senam, pasar murah, sampai pasar malam hiburan rakyat, bukan saja memberi manfaat ekonomi kreatif kepada pengusaha setempat.
Namun, juga memiliki fungsi silaturahmi yang efektif. Beberapa warga di Mlokorejo, Puger, misalnya, mengaku baru pertama ini ada panggung besar hiburan rakyat sejak tiga tahun lalu. Terlebih panitia yang ditunjuk relawan sangat profesional, sehingga lapangan yang digunakan pun tak menyisakan sampah pascaacara.
Jika menengok ke belakang, di era kepemimpinan Hendy Siswanto-Gus Firjaun, kegiatan turba seperti ini termasuk sering dilakukan.
Sebut saja program J-HUR (Jember Hadir untuk Rakyat), J-Berbagi, dan J-Shodaqoh. Jadi, bukan hal yang baru juga melihat Hendy dan Gus Firjaun lebih suka berada di tengah-tengah masyarakat ketimbang kerja administratif di kantor.
Kata Hendy, pengalaman dialektis lewat ruang-ruang percakapannya dengan warga secara langsung selalu menjadi caranya menemukan gagasan dalam upayanya membangun Jember.
Apa yang dimulainya tiga setengah tahun lalu belum tuntas. Sebab, kelindan masalah dan persoalan yang cukup rumit yang perlu diselesaikan dengan tambahan waktu satu periode lagi.
“Seluruh catatan pencapaian pun sudah kami bukukan dan bisa diakses untuk dinilai secara langsung oleh masyarakat sebagai bentuk pertanggungjawaban kami. Hari ini prestasi, besok bukti, bukan janji,” katanya. (ika/c2/nur)
Editor : Radar Digital