BONDOWOSO, RADARJEMBER – Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Univesitas Jember (UNEJ) mengadakan pelatihan kepada petani kopi Dusun Kluncing, Desa Sukorejo Kecamatan Sumber Wringin Kabupaten Bondowoso.
Bondowoso dikenal sebagai daerah penghasil kopi dengan kualitas baik. Kopi Bondowoso dikenal dengan Java Coffee atau kopi Jawa menghasilkan cita rasa khas herbal pada aftertaste dan kaya aroma.
Luas kopi rakyat Kabupaten Bondowoso mencapai 13.000 Ha menghasilkan kopi arabika yang ditanam di Dataran Tinggi Ijen dan Raung dengan ketinggian diatas 1000 dan 1500 MDPL.
Hasil kopi tersebut dikelola oleh brand Java Ijen Raung menggunakan teknik olah petani kopi arabika dengan teknik budidaya. Sehingga menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi dengan cita rasa khas.
Salah satu kecamatan penghasil kopi terbesar di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur adalah Kecamatan Sumberwringin yang sedang dikembangkan menjadi kawasan agropolitan komoditas kopi.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada petani kopi untuk dapat meningkatkan produksi kopi saat panen dan pasca panen. Kurangnya pemahaman pengolahan kopi saat panen dan pascapanen di Desa Sukorejo menyebabkan nilai jual biji kopi menurun. Ditambah lagi akses informasi/jaringan bisnis kopi yang tidak ada menjadikan petani kopi menjual ke tengkulak lokal.
Program Good Agriculture Practice on Coffee (GAP on Coffee) ini diinisiasi oleh dosen UNEJ yaitu Prof Dr Ir. Soni Sisbudi Harsono dan Dr. Siswoyo Soekarno dari Prodi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).
Sementara itu Drs. Sudaryanto, MBA., PhD dari Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang memberikan pembimbingan dan pelatihan kepada petani kopi. Agar dapat meningkatkan kinerja dalam pengelolaan dan pasca panen kopi yang sangat vital untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kopi. Bersama dua mahasiswa UNEJ yang juga ikut terlibat dalam penelitian tersebut.
Salah satu dosen peneliti Drs. Sudaryanto mengatakan tahap pelaksanaan penelitian dilakukan beberapa tahap sampai minggu ke 3 bulan September 2024 ini, telah dilakukan beberapa kegiatan yang meliputi tahap 1 yaitu observasi, kordinasi, serta kesepakatan dan kesepahaman antara tim pelaksana dengan petani.
“Tahap ini bertujuan untuk memastikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan berjalan sesuai progam yang telah dibuat tim pengabdi,” ujarnya.
Kemudian pada tahap kedua dilakukan sosialisasi progam pengabdian kepada masyarakat dan penerapan Good Agriculture Practice on Coffee (GAP on Coffee) pada pascapanen kopi. ). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan baru terkait pascapanen kopi.
“Penerapan GAP on Coffee pada pascapanen kopi terdiri dari beberapa kegiatan, diantaranya a) sortasi dan penjemuran. Sortasi sendiri dimulai dari pemetikan buah kopi (ceri), perambangan, dan sortasi biji kering (greenbeans). Sedangkan penjemuran berupa proses dan tempat serta kondisi tempat jemur,” jelasnya.
Selanjutnya pada tahap ketiga dilakukan kegiatan sosialisasi penerapan Good Agriculture Practice on Coffee (GAP on Coffee) pascapanen kopi. Kegiatan ini diawali dengan sortasi saat pemetikan cerry. Pemetikan diusahakan dengan mengambil buah kopi yang sudah matang yang ditandai dengan warna merah. Setelah petani melakukan pemetikan, cerry atau buah kopi dilakukan perambangan.
Perambangan adalah merendam ceri pada bak/wadah yang berisi air. Kegiatan ini bertujuan untuk memisahkan ceri yang mengalami Penggerek Buah Kopi dengan buah kopi yang memiliki kualitas baik.
“Pada Tahapan akhir ini dilakukan evaluasi bertujuan untuk melihat ketercapain tujuan dari progam pengabdian kepada masyarakat dan memberikan perbaikan pada setiap kegiatan jika terdapat kekurangan atau kesalahan,” urainya.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas biji kopi sehingga dapat menunjang kesejahteraan ekonomi petani.
Editor : Radar Digital