SUMBERJAMBE, Radar Jember - Kehadiran Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Jember, benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe, Jember.
Berkat PMM ini, 45 petani dari Poktan Mekarsari dan Poktan Tani Maju, lebih optimis dapat meningkatkan produktivitas hasil pertaniannya.
Selama Juli - September 2024 PMM berlangsung, petani didampingi langsung oleh mahasiswa dan tiga Dosen Pendamping Lapang (DPL), yakni Nilasari Dewi dan Nanang Tri Haryadi, dari Faperta Universitas Jember, dan Muhammad Firdaus, dari Institut Teknologi dan Sains (ITS) Mandala Jember.
"PPM ini berfokus pada pertanian berkelanjutan, membantu meningkatkan keterampilan petani menjadi lebih modern, dengan pendekatan yang ramah lingkungan," kata Nanang Tri Haryadi, salah satu DPL.
Menurut dia, Tim PMM memberikan sejumlah pelatihan intensif dan sosialisasi, mulai dari penguatan manajemen Poktan, pembuatan agen pengendali hayati (APH), pemasangan perangkap hama, pengendalian hama kopi secara alami dan ramah lingkungan.
Kemudian juga, pelatihan pengolahan pupuk organik sebagai alternatif dari pupuk kimia yang mahal.
"Jadi program ini tak hanya menjawab soal hama di kebun kopi, namun juga membantu petani mengelola lahan agar lebih ekonomis dan berkelanjutan," tuturnya.
Selain itu, PMM juga melibatkan Penyuluh Pertanian Lapang Desa Rowosari, Inggrid dalam memberikan pelatihan mengenai strategi pengembangan Poktan dan manajemen kelompok tani, agar lebih terorganisir dan efisien.
Sementara mengenai tantangan hama yang menyerang tanaman kopi, petani dilatih cara membuat Agen Pengendali Hayati (APH) berbahan alami, dipadu oleh dua Dosen Agroteknologi Unej, Nanang Tri Haryadi dan Nilasari Dewi. APH itu terbukti ramah lingkungan, karena dari media beras jagung dan APH cair berbahan dasar air kentang yang dicampur glukosa.
Baca Juga: Dosen FH Unej Ini Beri Komentar Terkait Maraknya Kasus Begal di Jember
"Jamur Trichoderma dan Beauveria Bassiana, sebagai agen utama mengendalikan hama tanpa mengorbankan lingkungan. Selain itu, perangkap hama seperti Yellow Bowl Trap, dipasang di lahan kopi dan cabai untuk mengurangi hama secara signifikan, dan atraktan serta sarang semut, digunakan untuk mengendalikan hama Penggerek Buah Kopi (PBKo)," jelas dia.
Program PMM ini mendapat respon positif dari masyarakat karena mudah diaplikasikan untuk meningkatkan produksi pertanian.
"Sangat bermanfaat sekali, kami diajarkan cara ramah lingkungan seperti perangkap hama dan pembuatan pupuk organik yang sangat membantu dalam meningkatkan hasil panen tanpa ketergantungan pada bahan kimia," kata Ketua Poktan Mekardari, Muzakki.
Disisi lain, ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Kemenristekdikti yang telah mendanai kegiatan pengabdian skema PMM tahun 2024 dengan nomor Kontrak 074/E5/PG.02.00/PM.BARU/2024 dan nomor kontrak LP2M UNEJ Nomer 5111/UN25.3.2/PM/2024. (ika/mau)
Editor : Radar Digital