Tiga santri MI Unggulan Nuris Jember tak hanya mengharumkan nama Jember di kancah nasional, tapi juga Jawa Timur. Perolehan medali emas menjadi sebuah pencapaian prestisius dalam Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Menjadi bukti kesekian kalinya bahwa santri juga bisa bersaing di bidang sains.
MEGA SILVIA,
Antirogo, Radar Jember
SENYUM ceria tak pernah lepas dari wajah ketiga siswa MI Unggulan Nuris Jember ini. Meski menghadapi babak menegangkan, tapi mental mereka cukup terlatih. Cerdas dan cekatan, Alfiyan Yazid Al Bustomy, Hamdan Fahmi Wafa, dan perempuan satu-satunya, Aisyah Cintya Afira, sungguh membuat Jawa Timur turut berbangga.
Berkolaborasi menjadi satu tim mewakili provinsi tercinta sudah merupakan pencapaian luar biasa. Namun, rupanya tak cukup bagi mereka. Kompetisi Sains Madrasah (KSM) diakhiri dengan sangat menggembirakan. Juara satu adu cerdas cermat bidang sosial sains terpadu ditorehkan. Medali emas jadi saksi ketangguhan tim ksatria baja hitam itu.
Sejak terbang sebagai salah satu tim perwakilan dari Jawa Timur ke Ternate, Maluku Utara, pada Selasa (3/9) lalu, Alfiyan, Fahmi, dan Aisyah sudah memperlihatkan percaya diri mereka. Hingga pada Jumat (6/9) mereka berhasil melaju ke babak final. Pertanyaan-pertanyaan tentang matematika dan IPAS seolah mudah saja. Dengan penuh percaya diri dijawab cepat dan akurat.
Persaingan sangat sengit kala itu, tapi kerja tim sangat bagus. Alfiyan, Fahmi, dan Aisyah saling mengimbangi, 676 poin didapatkan. Unggul di antara dua sekolah asal Ibu Kota Jakarta.
Alfiyan awalnya hanya menargetkan juara di tingkat kabupaten. Di luar dugaan, mereka bisa membawa pulang medali emas di tingkat nasional. "Tantangan saya adalah membagi waktu untuk menuntaskan tugas sekolah dan pembinaan olimpiade (M-Sains) di sekolah, tapi semua bisa saya laksanakan dengan baik," ungkapnya.
Ya, prestasi membanggakan yang diraihnya itu tidak instan. Anak sebelas tahun itu sudah aktif mengikuti program M-Sains MI Unggulan Nuris sejak kelas satu. "Jadi, sekitar empat sampai lima tahun prosesnya. Awal kami mengikuti event amatiran di mal seperti Transmart," ujar santri kelas lima itu.
Anak asal Kecamatan Sumbersari itu sudah sering melanglang buana mengikuti berbagai perlombaan sains dan matematika. Bahkan juga pernah meraih gelar juara di tingkat provinsi. Tak jauh beda dengan Fahmi dan Aisyah yang juga memiliki sederet prestasi.
Fahmi menceritakan pengalaman saat berada di babak grand final KSM. Dia sangat terkesan dengan banyaknya suporter dadakan yang kala itu mendukung timnya. Semangat pun makin membara. "Sampai membuat ketar-ketir lawan," selorohnya.
Anak asal Kecamatan Mumbulsari itu mengaku sangat senang dan terharu telah berhasil menjalankan misi. Orang tua, kata dia, yang selalu menginspirasi dan menyemangatinya untuk belajar. "Juga guru pembimbing di MI Unggulan Nuris yang mengajari dan terus mendorong saya," tuturnya.
Menjadi satu-satunya perempuan dalam tim tak membuat Aisyah kewalahan. Dia sudah sering digabungkan dengan Alfiyan dan Hamdan dalam satu tim. Bahkan jika lomba itu sampai luar kota dan KSM di luar pulau. "Saya sudah sering lomba ke luar kota bersama Alfiyan dan Fahmi, jadi tidak ada kendala sejauh ini," bebernya.
Siswa kelas enam itu berharap perolehan juara satu KSM tingkat nasional itu bisa memotivasi seluruh santri MI Unggulan Nuris. Tentunya prestasi itu menjadi persembahan membanggakan untuk MI Unggulan Nuris, Jember, dan Jawa Timur. "Semoga capaian kami bisa memotivasi adik-adik kelas kami dan tentunya terus ikut kompetisi-kompetisi lain," harap gadis asal Kecamatan Patrang itu.
Sabtu (7/9) malam lalu, kedatangan mereka disambut seluruh santri hingga pengasuh Pesantren Nuris. Ucapan demi ucapan selamat dan bangga juga diungkapkan oleh Kemenag Kanwil Jatim dan Kemenag Jember. Seluruh civitas academica MI Unggulan Nuris menyambut mereka penuh rasa bangga.
Pengasuh Pesantren Nuris Jember Gus Robith Qoshidi mengungkapkan, prestasi Alfiyan, Fahmi, dan Aisyah bukan hanya membanggakan Jember, tetapi juga Jawa Timur. Menjadi bukti nyata bahwa santri madrasah tak hanya pandai di bidang agama. "Ini membuktikan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji, tetapi juga bisa unggul di bidang sains dan teknologi," ucapnya. (c2/nur)
Editor : Radar Digital