BONDOWOSO, RADARIJEN - Prevalensi angka stunting di Bondowoso telah mengalami penurunan drastis, yakni 15 persen. Sebelumnya, prevalensi stunting di Bondowoso menempati urutan tertinggi kedua di Jawa Timur, yaitu 32 persen.
Tingginya stunting di Bondowoso menjadi perhatian bagi para dokter spesialis di Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Sejumlah dokter tersebut melaksanakan Pengabdian Masyarakat dengan melakukan penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat melalui puskesmas Curahdami, kabupaten Bondowoso.
Ketua Pengabdian Masyarakat Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K) mengatakan bahwa Bondowoso menjadi perhatian karena kasus stuntingnya cukup tinggi.
"Meskipun tadi disampaikan bahwa ada penurunan, tapi kasusnya masih tergolong tinggi," ungkap dokter bagian anak RSUD Dr Soetomo, kamis, 22 agustus 2024.
Menurutnya, stunting itu disebabkan kekurangan gizi kronis. Selain itu penyakit saluran pencernaan juga memberi peran terjadinya stunting.
"Kami dari divisi gastroenterologi juga memberikan penyuluhan terkait penyakit saluran cerna, karena hal ini juga menjadi salah satu penyebab stunting," terang dr.Alpha.
Pihaknya berharap, masyarakat, terutama ibu-ibu mampu menjaga gizi anaknya dan mewaspadai jika terjadi tanda-tanda stunting.
"Disini kita perlu sampaikan kepada ibu-ibu dan para kader posyandu, jangan sampai sudah terjadi stunting, baru dilakukan tindakan. Harusnya bisa dicegah. Misalnya pada masa pertumbuhan, berat badan anak mengalami stagnan atau penurunan, meskipun sedikit, maka hal ini harus diwaspadai dan segera dikonsultasikan dg tenaga kesehatan atau dokter spesialis anak untuk dievaluasi lebih lanjut penyebabnya" jelasnya.
Dokter Alpha berharap masyarakat, khususnya ibu-ibu dan seluruh pihak terkait bersama-sama mencegah stunting di lingkungannya.
"Kami berharap apa yang kami lakukan disini dapat diterima dan bisa diterapkan oleh para ibu, para kader dan juga para bidan dalam hal prevensi dan mengenali lebih dini terjadinya stunting," pungkasnya.
Sebagai informasi, Divisi Gastroenterologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga selain melaksanakan penyuluhan, juga melakukan pengukuran tinggi dan berat badan anak untuk mengetahui potensi stunting.
Mereka juga membagikan makanan sehat untuk peserta yang mengikuti penyuluhan sebagai upaya pencegahan stunting. (ika)
Editor : Radar Digital