Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Terapkan Sistem Bagi Hasil ke Petani

Radar Digital • Jumat, 10 November 2023 | 21:34 WIB
Photo
Photo

PG SEMBORO terletak di Desa/Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember. Pabrik ini memiliki lahan di kawasan Kabupaten Jember hingga Lumajang dengan luas areal tebu 8.700 hektare. Sementara kapasitas giling tebu kurang lebih 7.000 TCD (ton cane per day). Kekuatan besar ini membuat PG Semboro bisa menyelesaikan musim giling tebunya lebih cepat dibandingkan PG lainnya.

Direktur Utama PT SGN Aris Toharisman dalam kegiatan buka giling beberapa waktu lalu mengatakan, PG Semboro merupakan salah satu pabrik gula unggulan di PT SGN. Selain karena memiliki kapasitas giling yang besar, juga bisa menghasilkan gula dengan kualitas lebih baik. “Proses pengolahan gula di PG Semboro dilakukan dengan sistem DRK (defekasi remelt karbonatasi). Sehingga, memiliki warna gula yang lebih putih,” terangnya.

Photo
Photo

Sebagai bagian dari perusahaan yang ikut mewujudkan swasembada gula nasional, PT SGN saat ini tengah fokus pada sistem bagi hasil (SBH). Ini juga diterapkan di PG Semboro. Sistem ini memiliki dampak positif yang besar. Baik bagi PG maupun bagi para petani tebu. Sebab, tebu yang dipanen dan diproses menjadi gula itu didominasi tebu rakyat. Sehingga peran petani dan penebang tebu itu cukup penting dalam kesuksesan pabrik.

Kemitraan itu dijalankan dengan baik sejak awal. Pada sistem bagi hasil itu, PT SGN akan memberikan apresiasi kepada petani sesuai dengan kualitas tebu yang dihasilkan. “Jika tebu berkualitas baik dan memiliki rendemen yang tinggi, maka petani akan mendapatkan bagian yang tinggi pula. Artinya, kami akan memperbesar proporsinya agar tidak merugikan petani tebu,” imbuhnya.

Sementara itu, General Manager PG Semboro H. Noor Dradjad Rachman menambahkan, PG Semboro terus konsisten menjaga kemitraan dengan semua pihak. Sehingga dapat menghasilkan produksi gula yang terbaik. Lebih lanjut, harga gula tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan. Dari awalnya hanya Rp11.500 per kilogram, kini bisa mencapai Rp 13.550 per kilogram. Dengan demikian, petani tebu untung sebesar 17,4 persen.

“Strategi sistem bagi hasil itu kami terapkan kembali. Ternyata sukses untuk meningkatkan penghasilan petani. Ini yang petani nantikan di masa saat ini. Sehingga para petani tebu mitra kami semangat untuk menanam sekaligus menjaga kualitas tebu hingga tutup giling,” jelasnya.

Dengan rendemen dan harga gula yang meningkat dibandingkan tahun lalu, diharapkan para petani tebu bisa mengembangkan luasan lahannya dan meningkatkan produktivitas tebunya. Demi target swasembada gula pada tahun 2028 tercapai. (kin/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#petani tebu #PG Semboro