Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Planters, Pahlawan Perkebunan yang Sesungguhnya

Radar Digital • Jumat, 10 November 2023 | 20:54 WIB
PAHLAWAN: Para pahlawan perkebunan yang terdiri dari pemetik teh, pemetik kopi, penyadap karet dan penebang tebu berkontribusi besar pada kesuksesan perusahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII
PAHLAWAN: Para pahlawan perkebunan yang terdiri dari pemetik teh, pemetik kopi, penyadap karet dan penebang tebu berkontribusi besar pada kesuksesan perusahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII

JEMBER, Radar Jember – Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November menjadi momentum mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan. Tak hanya pahlawan yang senantiasa berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada pertempuran Surabaya, 10 November 1945. Tetapi saat ini, para pahlawan perusahaan juga berperan penting dalam kehidupan.

Oleh karena itu, PT Perkebunan Nusantara XII atau PTPN XII yang beralamat Jalan Rajawali nomor 44 Surabaya, Jawa Timur, menyebut mereka sebagai pahlawan perkebunan. PTPN XII yang bergerak di bidang perkebunan karet, kopi, tebu, kakao, dan aneka kayu ini terbagi menjadi sejumlah unit kebun yang tersebar di tiga wilayah. Yakni Wilayah I Banyuwangi, Wilayah II Jember dan Bondowoso, serta Wilayah III Lumajang dan Malang. Di Jember, ada empat komoditas yang dikelola PTPN XII. Yaitu karet, kopi, tebu, dan teh.

Koordinator Manajer Kebun Wilayah Kabupaten Jember Benny Hendricrianto, S.P. mengatakan, pahlawan perkebunan sesungguhnya adalah para planters, pekerja yang berjuang dan berkontribusi sangat besar dalam perusahaan. Ribuan planters itu bekerja optimal untuk kemajuan dan kesuksesan perusahaan. “Mereka layak disebut sebagai pahlawan perkebunan. Karena mereka garda terdepan perusahaan,” katanya.

Benny menerangkan, pimpinan perusahaan akan fokus pada strategi dan memikirkan masa depan perusahaan. Hal itu diterjemahkan melalui program kerja yang dilakukan bersama. Tentunya, hal itu tak akan berjalan sempurna tanpa kontribusi planters di masing-masing wilayah. Sehingga, kesuksesan perusahaan juga kesuksesan para pekerja perkebunan. Dia menyebut, para pahlawan perusahaan itu ialah penyadap karet, pemetik kopi, pemetik the, dan penebang tebu. Menurut Benny, keempat planters ini memiliki peranan penting dalam kemajuan perusahaan.

Pertama, penyadap karet. Pekerjaan ini cukup menantang, tapi tetap menggairahkan dengan pendapatan yang menggiurkan. Tak cukup hanya berbekal keterampilan menyadap pohon karet saja. Tetapi, juga dibutuhkan keberanian dan kesabaran dalam melakukannya. Selain faktor cuaca, keamanan juga perlu diperhatikan. Gigitan nyamuk dan serangga lainnya seolah sudah menjadi hal yang biasa. Namun, mereka tetap gigih, ulet, hati-hati, dan tulus dalam bekerja. “Bila hujan, maka getah yang disadap berisiko menjadi rusak, sehingga getah yang diperoleh tidak bisa diolah menjadi lembaran-lembaran sheet,” terangnya.

Kedua adalah pemetik kopi. Aktivitas memetik butir kopi di kawasan pegunungan ini memang menyenangkan. Tetapi, ada risiko besar yang harus mereka hadapi. Yakni memetik kopi yang berwarna merah atau siap panen. Sebab, jika salah petik, misalnya kopi berwarna kuning atau hijau, maka itu bisa merugikan. “PTPN XII selalu menerapkan standard operating procedure pengolahan kopi serta melakukan 19 tahapan uji petik kopi yang siap diekspor ke mancanegara, seperti Italia, USA, Jepang, dan lainnya,” tambahnya.

Pahlawan perkebunan ketiga, pemetik teh. Meski jumlah para planters lebih banyak saat panen raya, tetapi pekerjaannya juga tak mudah. Perjalanan menapaki jalan di ketinggian itu seolah tak terasa dengan indahnya pesona alam. Saat memetiknya, tak sembarangan daun teh dipetik. Harus bagian teh paling pucuk. Sebab, bagian itulah cita rasa teh PTPN XII. “Rasa lelah mereka terbayar dengan tumpukan untaian daun teh yang siap ditukar dengan rupiah setelah ditimbang di pabrik teh,” imbuhnya.

Sementara pahlawan terakhir, penebang tebu. Benny menjelaskan, mereka bekerja dengan dedikasi tinggi. Di bawah teriknya sinar matahari, keringat bercucuran. Saat musim hujan, badan basah kuyup. Kondisi lapangan yang basah dan licin itu tak menghalangi tekad mereka untuk tetap menebang dan mengangkut tebu di pundaknya. Tak heran, butiran gula yang dihasilkan dari tebu itu dapat dinikmati masyarakat dengan mudah. Namun, di balik itu, ada perjuangan yang berat dari para penebang tebu. (ika/kin/c2/nur)

 

Editor : Radar Digital
#Jember #PTPN XII