BACA JUGA : Rekomendasikan Pemecatan, DPRD Jember Nilai Kerja Empat Kepala OPD Gagal
Lika-liku perjalanannya selama kuliah bukanlah beban besar yang memudarkan tekadnya. Sejak kecil, perempuan yang akrab disapa Ilma tersebut selalu mengingat pesan sang ayah. Ayahnya menginginkan Ilma menjadi perempuan berpendidikan tinggi dan bermanfaat bagi sesamanya.
Saat bersekolah di SMK Nuris, perempuan berusia 29 tahun itu mengambil jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Tiga tahun sekolah selalu meraih juara kelas. Bahkan pernah mendapatkan penghargaan sebagai siswa teladan pada masa itu. Baginya, di mana pun berada, menuntut ilmu harus dijalani dengan sepenuh hati. Tak mau setengah-setengah. Kesibukannya sebagai siswa SMK tidak menghalanginya menjadi ustadah sampai ketua madin saat masih di bangku kelas XI.
Lulus SMK, dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di UIN KHAS Jember, yang saat itu, tahun 2011, masih bernama IAIN, dengan beasiswa penuh. Jurusan yang diambil adalah tafsir hadis, bisa dibilang berseberangan dengan jurusan saat sekolah. “Bukan bertolak belakang sebenarnya, karena saya juga memiliki background ilmu agama saat belajar di Nuris,” kata Ilma.
Ketekunannya berbuah manis. Ilma ditetapkan sebagai sarjana lulusan tercepat dengan masa pendidikan 3,8 tahun. Hal yang sama juga didapatkan kala menyelesaikan studi magister di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada 2015 lalu. Dengan waktu yang singkat, dia bisa merampungkan studinya di jurusan ilmu Alquran dan tafsir hanya dalam 1,4 tahun.
Saat menyelesaikan program doktor di UINSA pada 2022 kemarin, perempuan asli Lumajang itu berhasil meraih gelar sebagai doktor termuda. Saat usianya masih 29 tahun. Meski dia harus menghentikan proses kuliahnya satu tahun pada saat itu, namun ada hikmah yang bisa dirasakannya.
Di tengah menyelesaikan program doktor, Ilma terseleksi menjadi dosen CPNS di Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember. Kemudian, satu tahun setelahnya, pada akhir 2021 dia diangkat menjadi PNS. Sekaligus menjadi staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN KHAS Jember. “Akhirnya takdir mengantarkan saya pada kampus awal saya kuliah,” ujar alumnus SMK Nuris Jember itu. Sebelum itu, sejak 2017 Ilma sudah menjadi dosen di kampung halamannya, di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum Lumajang.
Jika diulang, dia merasa bersyukur karena saat lulus dari SMK Nuris tidak memilih untuk menikah. “Sempat dilema mau menikah atau lanjut kuliah. Tapi, akhirnya tekad saya bulatkan untuk kuliah,” sambungnya. Dia memandang, perempuan setara dengan laki-laki. Bisa berdaya dan berpendidikan tinggi. Menurutnya, gen kecerdasan anak akan diturunkan dari seorang ibu, sehingga perlunya perempuan berpendidikan.
Semangat itulah yang kemudian makin memantiknya. Agar kelak bisa menjadi perempuan mandiri, berkarir bagus, tidak menyusahkan orang lain. Malah bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. (ika/c2/nur) Editor : Safitri