Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Keutamaan Haji, Sabar, dan Usaha Jadi Kuncinya

Safitri • Jumat, 17 Maret 2023 | 17:08 WIB
ASRORUN NIAM Ketua MUI Bidang Fatwa
ASRORUN NIAM Ketua MUI Bidang Fatwa
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Ibadah haji merupakan rukun Islam yang wajib dijalankan setiap muslim bagi yang mampu. Keutamaan haji membuat beberapa calon jamaah tetap memilih bersabar menunggu giliran untuk bisa sampai ke Tanah Suci, Makkah.

BACA JUGA : DWP SMAN 1 Tenggarang Adakan Rapat Anggota dan Latihan Ecoprint

Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam mengatakan, pada dasarnya ibadah haji dan umrah yang menjadi satu rangkaian merupakan satu kewajiban bagi setiap muslim yang mampu. Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang istimewa. “Sementara, kalau umrah yang mandiri tidak dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah haji, hukum asalnya adalah sunah,” tambah dia.

Niam berpendapat, kewajiban haji dibebankan bagi yang memenuhi persyaratan seperti memiliki kemampuan bekal, baik fisik maupun finansial, untuk melakukan perjalanan ke Tanah Suci. “Jika pelaksanaan ibadah haji menuntut adanya pembayaran sejumlah uang, maka ketika dia cukup kepentingan pembayaran uang, maka dia harus membayarkan sejumlah uang. Dan juga upaya menuju ibadah haji dengan mendaftar, maka mendaftar itu hukumnya wajib,” ujar dia.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah 2015-2020 Tafsir, mengatakan, perbedaan haji dan umrah salah satunya terletak pada masa pemberangkatan. "Untuk haji, waktu dan tempat sudah ditentukan. Kalau umrah, tempatnya saja, waktunya tidak ditentukan," kata dia.

Oleh karena itu, haji merupakan momentum umat muslim seluruh dunia berkumpul di satu tempat. Sehingga, kata dia, hal itu yang membuat orang yang akan berangkat haji harus terlebih dahulu antre. "Karena kapasitas haji di Makkah dan Arafah itu hanya kira-kira empat juta orang. Sementara, peminatnya pasti jauh lebih banyak. Maka itu dibuat kebijakan setiap 1.000 muslim ada satu yang ibadah haji (dalam satu tahun, Red)," jelas dia.

Dia mengilustrasikan jika penduduk muslim di Indonesia berjumlah 210 juta jiwa, maka yang berangkat sekitar 210 ribu. Hal itulah yang membuat masa tunggu haji relatif lama. "Ini tidak bisa dipaksakan agar bisa cepat, karena kan wilayah Arab Saudi tidak berkembang. Kalau kapasitasnya 4 juta dan dipaksakan misal 8 juta orang, nanti malah dikhawatirkan ada musibah," ujar dia.

Meski masa tunggu relatif lama, menurutnya, kesabaran menunggu giliran untuk berangkat ke Tanah Suci itu sudah dihitung sebagai kebaikan dan mendapat pahala. Bahkan, dia menambahkan, di dalam Islam, niat saja sudah dihitung pahala. "Sehingga tidak usah kemudian resah karena sudah daftar, tapi belum berangkat," tambah dia.

Tafsir menambahkan, selain niat dan kesabaran menunggu perlu juga diiringi dengan doa agar bisa berangkat tepat pada waktu yang sudah dijadwalkan. "Selebihnya tinggal tawakal kepada Allah, bahwa kita sudah niat untuk haji, tetapi kuasa sepenuhnya ada di tangan Allah. Dan yang perlu digarisbawahi, Allah itu tidak melihat hasil. Tapi, melihat usaha kita untuk menunaikan haji," ujar dia.

Salah satu calon jemaah haji asal Boyolali, Punto, 32, sudah mendaftar haji pada Desember 2019. Dia menyetor uang senilai Rp 25 juta untuk bisa secara resmi terdaftar sebagai calon jemaah haji.  “Yang wajib kan memang haji. Jadi, pada 2019 itu, mikirnya yang penting daftar dulu. Perkara nanti mau berangkat kapan dan biaya berapa, tidak menjadi soal. Selanjutnya, tetap niat umrah sebelum keberangkatan haji,” kata dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo, Abdul Rozaq, mengatakan, ibadah haji merupakan panggilan yang ditujukan untuk seorang muslim. Dia mengatakan, yang terpenting selain usaha dan sabar adalah meluruskan niat untuk semata-mata beribadah menunaikan kewajiban. “Kalau kamu betul-betul niatnya lillahi taala, berapa pun biayanya pasti berangkat,” kata dia, yang juga Imam Besar Masjid Sheikh Zayed.

 

  Editor : Safitri
#Haji