Sosialisasi berupa dialog interaktif yang diselenggarakan Selasa pagi mengupas tentang pemeriksaan kesehatan calon pengantin untuk mencegah stunting. Dialog itu dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI Nur Yasin, Penyuluh KB Ahli Utama dari BKKBN RI Dwi Listyawardani, Koordinator ADPIN Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sofia Hanik, serta Kepala Dinas P3AKB Kabupaten Jember Suprihandoko.
BACA JUGA: KIE Bangga Kencana dan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja Masyarakat
Pada dialog itu terungkap, kesehatan orang tua sangat berpengaruh jika ingin memiliki anak. Karena anak yang sehat akan lahir dari orang tua yang sehat juga. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan terhadap calon pengantin.
Selama ini, masih banyak wanita mengalami anemia ketika memeriksakan kesehatan dirinya. Oleh karena itu, sebelum menikah mereka dianjurkan mengikuti konseling yang sudah disediakan. Sebab, menikah membutuhkan banyak persiapan. Baik secara mental, fisik, kesehatan, maupun secara finansial. Di Kabupaten Jember untuk pemeriksaan kesehatan calon pengantin sudah disediakan di puskesmas, rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya secara gratis.
Selain itu, pemerintah juga sudah mengantisipasi masalah kesehatan dan perbaikan gizi calon pengantin, terutama pengantin wanita dari usia remaja. Yakni dengan memperbaiki gizi, memberikan nutrisi, serta obat anemia pada remaja. Harapannya para remaja menjadi sehat, baik mental maupun fisiknya, sehingga mampu memutus rantai stunting.
Lalu, apakah pasangan pengantin yang kurang sehat atau yang ada indikasi stunting tetap bisa menikah? Semua calon pengantin dapat menikah baik yang sehat maupun yang kurang sehat. Namun, bedanya adalah pasangan yang kurang sehat, misalnya anemia atau HB kurang, maka akan mendapatkan pendampingan supaya dapat melahirkan anak yang sehat.
Pemeriksaan kesehatan ini bertujuan, jika calon pengantin yang akan menikah ada indikasi stunting, maka dapat lebih cepat ditangani dan dapat disembuhkan sebelum mereka menikah dan hamil.
Untuk mencegah stunting dibutuhkan kerjasama banyak pihak. Karena hal ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Jika tidak, maka penurunan stunting sulit dilakukan. (*) Editor : Maulana Ijal