Kemarin, panen perdana bule dilakukan. Sekitar 2.777 hektare lahan tebu dan kedelai di blok Genitri Lor itu bakal dipanen secara bertahap. Kesuksesan ini didukung kerja sama Holding III PTPN dengan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Direktur Holding PTPN III Perkebunan Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengapresiasi langkah berani PG Jatiroto. Menurutnya, inovasi ini akan meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia. Khususnya peningkatan produksi kedelai.
"Mulai tahun ini menanam 35 hektare. Tahun depan akan kami tingkatkan menjadi 35 ribu hektare. Tujuannya kami ingin menjadi bagian dari kekuatan bangsa menaikkan produksi kedelai. Karena saat ini hampir 90 persen kedelai impor," katanya, seusai memanen bule bersama jajaran direksi.
Luas tanaman tebu, lanjutnya, saat ini ada sekitar 450 ribu hektare. Luasan itu rencananya bakal ditanam kedelai pasca panen tebu. Sehingga total yang akan dihasilkan sebesar 500 ribu ton. Jumlah itu sudah mengkaver hampir seperenam kebutuhan kedelai.
Ghoni menjelaskan, penamaan model ring-pit ini akan menguntungkan. Tidak hanya bagi PTPN saja, tetapi para petani juga. Sebab, tanaman kedelai memiliki banyak manfaat. Salah satunya menyuburkan lahan. Sehingga tebu menjadi semakin bagus.
Pihaknya optimistis, inovasi ini bakal mengulang kejayaan perkebunan. Sebab, kerapatan penanaman model ini akan meningkatkan kualitas tebu. Lebih lanjut produksi kedelai di Indonesia juga bertambah. Sehingga penyerapan kedelai dalam negeri semakin tinggi.
"Nanti akan kami perluas ke semua lahan PTPN. Tentu kami akan mengajak masyarakat berkolaborasi bersama dengan Kementerian BUMN untuk mewujudkan ini," jelasnya.
Ke depan, kolaborasi tersebut akan diperkuat. Pihaknya juga memastikan hasil panen dari petani bakal diserap pertama kali oleh PTPN dengan harga normal. "Ini akan menguntungkan para petani. Makanya kami perkuat kolaborasinya," pungkasnya. (*) Editor : Maulana Ijal