Ketiga dosen Polije melaksanakan kegiatan penerapan IPTEK kepada masyarakat (PIM) yang dilaksanakan di industri sari kedelai (UKM Susu Kedelai Madu) milik Ajub Riadi di Desa Tegalgede Kecamatan Sumbersari. Kapasitas produksi industry Milik Ajub Riadi setiap harinya mampu mengolah bahan baku kedelai rata-rata sebanyak 140 kg yang menghasilkan 17.000 sachet kemasan 150 mL. “Salah satu permasalahan yang dihadapi pada produk sari kedelai adalah bau langu, masalah bau langu menghasilkan GAP sebesar 1,14, menjadikan salah satu variabel yang menurunkan minat konsumen terhadap produk,” kata ketua tim pengusul program PIM, Mokhamad Fatoni, STP.,M.P. Masalah lainnya adalah proses produksi dan pengemasan yang kurang higienis dan efisien.
Untuk itu, Polije melakukan Inovasi dengan menerapkan otomatisasi proses pemasakan dan penggantian peralatan berbahan stainless steel (food grade), serta penerapan teknologi HPEF terintegrasi untuk meningkatkan kualitas produk sari kedelai. ‘Alhamdulillah inovasi tim PIM berhasil mengatasi permasalahan industri sari kedelai,” tutur Mokhamad Fatoni, STP., M.P.
Menurut dia, tujuan program PIM ini adalah Otomatisasi peralatan pemasak sistem uap (steam). Kemudian membuat wadah penampung sari kedele higinies berbahan stainless steel 304. Menerapan proses sterilisasi sari kedelai secara non termal. “Sasaran program PIM adalah aplikasi peralatan pengolahan yang lebih sehat dan efeisien; mengurangi bau langu pada produk sari kedelai dan meningkatkan umur simpan (exp) produk karena produk lebih higienis dari 3 hari menjadi lebih dari 7 hari.
Kemudian meningkatkan omset penjualan sebesar 30 persen per bulan dengan penerapan manajemen modern dan pemasaran berbasis Less contact economy (pasar digital/online). Keunggulan inovasi teknologi berbasis bahan food grade adalah peralatan lebih ergonomis, dari sisi sanitasi lebih higienis, kapasitas lebih besar, lebih efektif dan efisien dan menghasilkan produk yang lebih bersih dan sehat.
Sedangkan kebaharuan inovasi teknologi lebih diprioritaskan pada sistem sterilisasi non termal berbasis High Pulse Electricity Field (HPEF). Dampak ekonomi kegiatan adalah diperolehnya tambahan keuntungan menjadi 30 persen dengan peningkatan kualitas produk serta efesiensi dalam proses pemasakan, mengurangi tingkat kerusakan produk dan kebutuhan bahan baku meningkat sehingga secara tidak langsung meningkatkan kesejahteraan baik penyedia bahan baku maupun tenaga pemasaran.
Dampak sosial adalah mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak yaitu 3-5 orang dalam kurun 1 tahun. Implementasi High Pulse Electric Field (HPEF) terintegrasi untuk peningkatan kualitas dan kuantitas Produk “Susu Kedelai Madu” di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember dengan umur simpan produk dari 3 hari menjadi 7 hari dengan bahan baku 140 kg/hari menjadi 200 kg/hari, hal ini kompetitor produk sari kedele berbasis HPEF terintegrasi belum ada baik di sekitar Jember bahkan di Indonesia. Editor : Yohanes Pangestu