Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gel Aloevera & Mint Kering Jadi Bahan Dasar Olahan Makanan Minuman Sehat

Maulana Ijal • Selasa, 20 September 2022 | 15:56 WIB
PERLU INOVASI PEMBELAJARAN: Orang tua merekam kegiatan belajar daring putranya. Metode pembelajaran yang tak selalu mengandalkan daring harus tetap dilakukan. Salah satunya adalah mewarnai.
PERLU INOVASI PEMBELAJARAN: Orang tua merekam kegiatan belajar daring putranya. Metode pembelajaran yang tak selalu mengandalkan daring harus tetap dilakukan. Salah satunya adalah mewarnai.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan gel aloevera dan mint kering merupakan salah satu bentuk kerjasama yang berkelanjutan antara kelompok pengabdian kepada masyarakat dari Politeknik Negeri Jember dengan mitra kegiatan yaitu kelompok PKK RW 27 Kelurahan Tegal Boto Lor Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember yang diketuai oleh ibu Sa’adiyah. Mitra bertempat tinggal di lingkungan perkotaan memiliki rerata luas lahan yang sempit pada pekarangan di sekitar rumah tinggal yang telah dioptimalkan dengan penanaman lidah buaya dan mint. Namun demikian masih terdapat problem yang dihadapi mitra yaitu mitra belum mengetahui cara panen, penanganan pascapanen, pengemasan, penyimpanan gel lidah buaya dan daun mint serta belum mengetahui aspek managerial dalam membuka usaha.
Photo
Photo


Permasalahan mitra diselesaikan melalui solusi berupa transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dari tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat Politeknik Negeri Jember dengan pendanaan PNBP 2022 yang diketuai oleh Ir. Titien Fatimah, MP. bersama anggota tim dosen Dyah Nuning Erawati, SP. MP. dan Ir. Siti Humaida, MP. dengan melibatkan tenaga teknisi Faridatul Hasanah, S.ST. beserta 2 orang mahasiswa Dilla Sri Wahyuni dan Tri Asih Wulandari.
Photo
Photo


Titien Fatimah selaku ketua tim menyampaikan materi pada saat penyuluhan dan pelatihan menguraikan bahwa “Penanganan pasca panen lidah buaya dan mint seharusnya mengikuti prosedur tahapan yang standar agar hasil panen dapat dipertahankan kualitasnya”. Tahapan panen dan penanganan pasca panen lidah buaya dimulai dengan: 1) Panen pelepah lidah buaya dimulai dari pelepah daun yang paling bawah. Pelepah daun lidah buaya digores pada dasar pelepah menggunakan pisau tajam. Pelepah daun diputar dengan arah putaran berlawanan; 2) Pelepah daun yang telah bersih kemudian dipotong menjadi beberapa bagian; 3) Sisi pelepah serta kulit pelepah bagian atas dan bawah dikupas sehingga hanya tersisa gel; 4) Potong gel menjadi bentuk dadu. Potongan gel kemudian dicuci dengan air mengalir sampai lendir berkurang; 5) Potongan gel direndam selama 30 menit kedalam larutan yang telah ditambah garam dan asam sitrun kemudian dicuci bersih dan ditiriskan; 6) Potongan gel dikukus selama 10 menit ketika suhu mencapai 700C; 7) Gel didinginkan dan siap untuk dikemas. Penanganan panen dan pasca panen daun mint dimulai dengan: 1) Panen daun mint sesuai kriteria daun siap petik, segar, normal dan sehat; 2) Seleksi daun hasil panen dengan memisahkan daun, batang dan kotoran; 3) Hasil seleksi panen kemudian dihamparkan pada wadah pengeringan; 4) Pengeringan dilakukan pada tempat teduh yang tidak terkena matahari secara langsung tapi memiliki sirkulasi udara yang baik; 5) Lama pengeringan bervariasi antar 5-7 hari sampai daun mint kering tetapi tetap berwarna hijau; 6) Daun mint kering dikemas.
Photo
Photo


Dyah Nuning Erawati lebih lanjut memaparkan bahwa “Pengemasan memegang peran penting agar gel lidah buaya dan daun mint kering dapat diperpanjang umur simpan sekaligus tetap terjaga mutunya”. Pemilihan wadah penyimpanan sebaiknya yang kedap udara dengan menggunakan tutup berulir untuk menjaga kesegaran produk. Penyimpanan pada ruang yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung atau menyimpan pada suhu kurang dari 100C akan memperpanjang umur simpan. Terlebih lagi penyimpanan gel lidah buaya didalam freezer mampu mempertahankan kualitas gel sampai 8-12 bulan. Pengemasan dan penyimpanan daun mint kering yang tepat akan mempertahankan aroma dan kualitas rasa khas mint.
Photo
Photo


Kegiatan pelatihan yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan target kegiatan. Mitra yang terlibat berperan aktif dan antusias mengikuti setiap tahap kegiatan. Faridatul Hasanah yang mendampingi kegiatan pelatihan menuturkan bahwa “Semua peserta sangat bersemangat mengikuti kegiatan sampai selesai”. Tanggapan positif dari peserta juga dikemukakan oleh ibu Nera (58 tahun) dan ibu Sa’adiyah (55 tahun) yang menyatakan bahwa “Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat dan semoga berkelanjutan”.

Berdasar hasil kegiatan pendampingan sebagaimana dilaporkan oleh Siti Humaida terungkap bahwa potensi dan peluang mitra untuk mengembangkan produk gel alovera dan daun mint kering menjadi industri skala rumah tangga sangat memungkinkan. Managemen sederhana meliputi perencanaan, organisasi, pelaksanaan dan evaluasi bisa diterapkan oleh mitra. “Pemasaran melalui media online sebagai sarana promosi dan kesempatan memperkenalkan produk menjadi pilihan yang mudah dilakukan” tuturnya. Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil dapat diindikasikan dengan kemauan dan kemampuan mitra secara mandiri melakukan kegiatan secara berkesinambungan karena memperoleh manfaat dan keuntungan. Jalinan kerjasama antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi sarana komunikasi dan partisipasi aktif dalam mendukung kesuksesan pemerintah daerah guna menanggulangi dampak endemi Covid-19. Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah berhasil mencapai tujuan untuk membantu mitra lebih trampil, lebih mandiri secara ekonomi dan sosial. Editor : Maulana Ijal
#Inovasi #Kesehatan #makanan